Kelakuan Ceuceu 2.5 Tahun

Kejadian 1:
Kinan jalan menyamping sembari tangan nyapit nyapit.
“Ngapain Kinan?”
“Aku kepiting. Aku kepiting”

Kejadian 2:
Kinan jalan kaki kanan diangkat tinggi barengan tangan kanan. Terus kaki kiri barengan sama tangan kiri.
“Kinan kenapa?”
“Aku lobot. Aku lobot”

Kejadian 3:
Kinan jalan secimit cimit dengan tangan kanan dan kiri nempel di samping badan..
“kinan kok jalannya gituu?”
“Aku pingwin. Aku pingwin”

Ini gimana siiihh, gue pengen gigit!! :))

Investment Diversity: Kebun Kelapa Sawit

Preambule dulu ya, untuk membuka lahan buat sawit ini, ga ada hutan maupun orangutan yang disakiti kok. Lahan ini tadinya semak-semak yang digunakan sebagai tempat penambangan emas liar oleh warga sekitar, sampai akhirnya Bupatinya bertitah: daripada rusak tanahnya, mending buat sawit aja deh tuh!

Sama Investasi ini benci-benci cinta sih..

Awalnya ayah bilang mau investasi di sawit di Kalimantan, saya sih membelalakan mata, lantaran everyone knows it’s a high capital business (modal maupun sdm).. Cicis darimana, sis? Terus waktu itu kita baru memutuskan untuk pindah rumah ke Ciganjur yang mana jauh darimana-mana. Uang yang ada, kalau gue boleh pilih, lebih gue prioritaskan buat beli mobil supaya pergerakan kita lebih nyaman. Gue bukan orang yang kemana-mana mesti mobilan kok. Ke kantor gue juga naik motor sampe sekarang. BUT once you have a child, your priority will eventually change. Riding motorcycle is not an option ya, karena motor kan buat dua penumpang aja aturan benernya. After some debates (dan permanyunan), diputuskan kalau mobil first, beli kebon later. Setelah dihitung-hitung, feasible buat beli kebon itu 3 tahun lagi.

Sampai…

Beberapa bulan kemudian gue dapet rejeki yang jumlahnya pas banget sama harga kebon. PAS. Gila kalo dipikir sekarang, kok isooo.. Mungkin sama Allah dikasih jalan buat ga jadi istri durhaka banget kali ya.. :p

Akhirnya jadi juga beli kebun ini setahun yang lalu, karena duit masih belum tinggal metik di pohon, kita juga ga beli sampe yang ratusan hektar. One step at a time aja deh…

Bulan lalu ayah datengin kebunnya dan dia sudah sebesar ini sekarang…

 

IMG-20140315-WA0007

 

IMG-20140315-WA0003

<3 <3

Mudah-mudahan lancar terus sampai 2 tahunan lagi.. doakan yaa agar bibit-bibit mimpi yang kami titipkan di kebun ini dapat berkembang baik, berkah bagi kami, maupun orang banyak.. Aamiin..

The Fault in Our Stars Movie

Jadi gue ini pecinta (dan penyayang) John Green. I have few books of his; including Will Grayson, will grayson (collaborated with David Levithan), The Fault in Our Stars, Looking for Alaska, dan terakhir Paper Towns.

Gue mau bahas yang The Fault in Our Stars nih. Do you know that kinda book that when you read it you can actually imagining the characters because they’re so real? TFiOS is that kinda book. It really deserves a movie!

Jadi gue baca ending novel ini di busway pas berangkat kantor kan. Dan maaan, tenggorokan tercekat mata panas menahan tangis. tengsin bok nangis di busway. Begitu sampe halte busway karet kuningan gue duduk dulu nenangin dada. Sesek! Wahaha, lebay. Kan aku abg at heart, kakak..

langsung tweet si John Green “Somebody should’ve warned me about reading TFiOS in public transportation. Damn it @realjohngreen!” *caper dikit :))

Maka, bahagianya aku ketika melihat ini sebulan lalu..

Aaaaaaaa… *inner teenager shouting*

Hazelnya manis banget yaa.. Terus Gusnya bikin gemes gimanaaa gitu.. They actually accidentally also the cast of Tris and Four in the movie Divergent.

Mudah-mudahan filmnya sampe Indonesia yaa *calendar June marked with love*

“Maybe ‘okay’ will be our ‘always”

“Okay”

#ProyekMenulis Love Never Fails

Suatu hari di pertengahan Februari lalu, gue lagi stalking twitter ngalor ngidul, lalu sampailah ke suatu berita kalau ada sebuah lomba cerpen yang diadakan oleh online publishing @nulisbuku. Gue langsung buka persyaratannya dan mikir kayaknya bisa nih kirim barang satu naskah.

Di situ dikasih tau kalau 17 cerpen pemenang akan dapat hadiah dan dibukukan tapi totalnya akan ada 200 cerpen terbaik yang dibukukan menjadi beberapa Kumpulan Cerpen walaupun ga dapet hadiah.

I was like, ’200 cerpen terbaik?? Seriuslah pasti masuk cerpen gua! Paling yang ngirim paling banyak 400! HAAHAHAHAH!’

Karena males bikin baru, gue comot satu cerpen di blog yang paling masuk sama kriteria dan tema lomba yaitu Love Never Fails. Coba ditebak cerpen mana yang gue kirim? Hehehehe.. cerpen itu gue rapih-rapihin dikit sama gue tambah-tambahin dikit lah biar inline sama tema lomba.

Batas waktu pengiriman cerpen itu seminggu and by the end of the deadline dikasih tau kalau total yang ngirim cerpen adalah 1100 NASKAH!!

Tingkat kepedean yang tadinya menjura-jura lalu menurun tajam. Yah boook, banyak bener ini yang ikutan. *mengkeret

Dalam hati kan ini pembuktian juga terutama buat si ayah yang pernah bilang kalau cerita-cerita fiksi saya biasa aja *insert gambar hati tersilet di sini* kalau lomba pertama yang diikuti ga lolos, rasanya pasti down yaaa.. terus pasti mikir, ‘jangan jangan si ayah benar. Apa aku tak berbakat? Aaaaaaaa’

Jadi walau bilangnya ikut ni lomba ‘nothing to lose’ tapi diem-diem ngarep juga. Haha..

Karena membludaknya peserta, penjurian yang sedianya seminggu molor jadi dua minggu.

Kemarin pengumumannya, dag dig dig rasa jantungku. Beginilah akibatnya kalau jiwa kompetitif begitu dalam, ga bisa selo padahal udah ebo ebo. Hft.

Pas jam 5 diumumin. Buka link yang dikasih. Ternyata ada 12 buku yang diterbitin. Kategori yang gue ikutin bakal diterbitin 9 buku.

Scroll down scroll down scroll down. Buku pertama ga ada. Ketiga.. keempat.. keenam.. yah ga lolos deh gue.. ketujuh.. hiks.. daaan adaaa! Di buku ke delapan nangkring dengan manis cerpen eike yang berjudul The One(s)!!

Ihiiiy, Alhamdulillah…

Jadi eneng abang om tante, Kumpulan cerpen yang ada cerita dari sayahnya sudah siap dipesan loooh, barangkali ada yang penasaran. Hehehehe.. cara pesannya bisa dilihat di artikel ini

Seluruh keuntungan dari proyek ini akan disumbangkan ke panti asuhan loh! So in case you’re in need to read a light book, go grab em! Buku gue yang nomer 8 yaa..

Tertanda,
Penulis amatir hepiiiii!

PS: buat ayah, karena telah menyangsikanku dirimu haru membeli minimal 5 BUKU!

PSS: engga deng ayaaah. I know it’s just not your Genre. Abis gimana dong diana genrenya antara lain ’17 hari menuju kebebasan finansial’ atau ‘Menjadi Pengusaha’. Hehehe.. i love you though and thanks for being a loyal reader of this blog!

Dan para petinggi-petinggi perusahaan minyak itu.. (2)

regarding this post, to be fair..

akhir taun lalu datang Presiden baru, syahdan tadinya seorang Geologist (technical dong yaa..)

Marah-marahlah dia lihat Manaher-manaher yang ongkang-ongkang kaki bobok bobok manits di Ritz Carlton makan mewah pagi siang malam di restonya lagi.

Semua Manaher dipindahin ke apartemen aja (tapi masih di daerah elit sih) terus makan pagi siang dan malam di Lantai Mezanin kantor pake katering kantor. Mwahahahaha..

Daaaann.. bonusnya perusahaan ituh lumayan taun ini dibanding tahun-tahun lalu yang 1x gaji pun tak sampai..

Alhamdulillah yaa amanah..

 

What if Our Love Fades

Dalam hidup, setiap harinya manusia harus mengambil keputusan-keputusan kecil maupun besar tapi membutuhkan jawaban dengan cepat. Mulai dari yang sederhana seperti apakah kamu memilih untuk naik mobil atau motor saja pagi ini. Atau menu makan siang apa yang akan kau santap nanti. Hingga yang lebih kompleks seperti berapa detik waktu yang kau butuhkan untuk mengiyakan lamaran kekasihmu saat mengajakmu menikah.

Untuk wanita lain mungkin hanya butuh sepersekian detik. Itupun tanpa berpikir panjang si wanita akan mengiyakan. Tapi hal itu tidak berlaku padaku. Aku hanya termangu, beberapa detik, saat David melamarku. Sepertinya David juga terkejut dengan reaksiku. Apa sebenarnya yang dia harapkan? Bahwa aku akan melonjak-lonjak kegirangan? Dia tahu benar hal itu tidak mungkin, karena akukan baru selesai Operasi usus buntu 2 minggu yang lalu. Atau dia sedikit berharap aku menangis? Itupun harusnya dia tahu, kalau aku tak pernah menangis. Kecuali satu kali itu saat menonton film Hachiko bersamanya. Namun untuk hal di dunia nyata, aku pantang menangis.

Setelah beberapa detik yang panjang dan canggung, diapun memberanikan diri memanggil namaku. Tapi aku tak juga menjawabnya. Aku menatap calon cincinku. Berlian di cincinnya besar sekali. Aku tahu jumlah gaji david dan aku yakin dia pasti menyisihkan gajinya sedikit demi sedikit untuk membeli cincin ini. Jadi lamaran ini, cincin ini, fancy restaurant ini, pasti sudah dia rencanakan selama berbulan-bulan.

I could’ve just say yes. Aku mencintainya. Dia mencintaiku sedikit lebih banyak. Kami bahagia bersama dan semua kerabat menyetujui hubungan kami. Tapi pernikahan itu artinya hidup bersama selamanya. Dan selamanya itu sangat lama. Selamanya itu lama yang tidak berbatas. Apa sampai selamanya itu cinta kami akan sama kadarnya?

Pasti karena horoskopku Libra, jadi aku penuh keragu-raguan seperti ini. Tapi ah, siapa yang kubohongi? Manusia memang gemar mencari-cari pembenaran dalam segala sesuatu dalam hidup, termasuk melemparkan keburukan sifat dalam dirinya kepada konstelasi bintang sehingga ia tidak salah-salah amat.

Kau pasti membatin kalau aku berlebihan? Tapi aku tahu satu contoh nyata. Ayah dan ibuku. Aku yakin mereka dulunya saling mencinta. Itu terlihat dalam setiap senyuman mereka di foto-foto lama yang tersimpan di album perjalanan mereka. Mereka juga saling berpelukan di foto itu. Aku juga masih ingat samar-samar kalau ayahku suka mengelus rambut ibuku saat ibu memasak di dapur. Atau curi-curi mencium kening ibuku saat kami menonton TV.

Lalu waktu berlalu. 5 tahun. 10 tahun. Dan semuanya menjadi hambar. Mereka mulai took thing for granted. Masing-masing menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Ayah dengan burung-burung peliharaannya. Ibu dengan kami, ketiga anaknya. Keberadaan satu sama lain jadi tidak berarti. Lalu mereka mulai meributkan hal-hal remeh. Hal-hal yang tiga hari kemudianpun kau tak ingat lagi apa. Tapi hal-hal remeh ini mendadak jadi besar dan penting untuk diperdebatkan.

Dan mereka berhenti saling mencintai.

Tidak, mereka tidak berpisah. Mungkin alasannya kami? Tapi bukankah hidup bersama dengan orang yang tidak kau cintai justru lebih menyakitkan daripada bercerai itu sendiri?

Sekarang, kau bilang padaku, apakah kekhawatiranku saat  ini berlebihan? Apa yang harus kujawab, karena david menungguku.

Akhirnya Saudara-saudaraa!

image

Fiuhh setelah tahapan-tahapan panjang  ngisi buklet harian kegiatan bersama Kinanti setiap hari selama sebulan (yang mana nilai bapaknya lebih bagus dari mamaknya, padahal bapaknya isi cuma seminggu skali HUH), ikut acara parenting sama psikolog rekanan sekolah, wawancara orangtua tentang nilai-nilai di keluarga apakah selaras dengan visi dan misi tetum. Dan boook, ini baru masuk pre-school! Hehehe…

Tapi InsyaAllah sudah mantab di Tetum aja sampai lulus TK nanti.

Oh iya, dan inilah jawaban si ayah

image

Aamiin.. Ga sabar Juli yaa..