One (Lost) Shot

Keringat gua mengucur deras. Tangan basah. Lidah kelu. Tapi untung ga sampe pipis di celana. Eh, gak kan? Sebentar, periksa dulu. Ehem, lanjut. Bukan, gua bukan abis nonton rapat DPR sehingga jadi mual. Gua justru sedang menatap gadis cantik yang sudah seminggu belakangan mengisi mimpi gua.

Kenalan? Gak? Kenalan? Enggak! Kenalan, cupu!

Arrghh!!

Rewind ke beberapa hari ke belakang, pagi itu gua bangun dengan perasaan gamang, karena Song Hye Kyo baru tau dia dikhianati ‘kakak’ kesayangannya. Eh, rewindnya kebanyakan. Fast forward dikit. Pagi itu gua gelantungan di busway sembari ngantuk banget karena nonton drama korea sampe jam dua malam. Tapi ngantuk gua langsung hilang begitu gadis ini masuk. Kalau di iklan-iklan, ini bagian si gadis berjalan dengan rambut panjang tertepa angin, dengan background beberapa laki-laki melongo memandanginya. Tapi bedanya ga ada angin. Dan si gadis ga make dress merah seksi. Dan laki-laki yang memandangi dengan tampang bodoh cuma gua. Kalau ibaratnya dia medan magnet, gua adalah serpihan besi yang tertarik ke arahnya tanpa bisa melawan. Larut dalam pesonanya. Asli, cewe tercantik yang pernah gue liat! Setelah nyokap gua tentu, karena gue belum mau dikutuk jadi batu. Si gadis berdiri di sebelah gua dan gua yakin debaran jantung gua kedengeran sama dia. Iya, sekencang itu.

Malam itu gua menghabiskan waktu mikirin dia, mengingat caranya mendorong kacamata yang melorot dari pangkal hidungnya. Mendengar tawa renyah kecilnya saat membaca novel yang dia bawa (undomestic goddess. Harus cari weekend ini. Eh lupa, sejak kapan gua baca chicklit?). Sembari curi-curi lirik waktu dia membalas pesan-pesan di handphone dari temannya (antara naksir sama kepo beda tipis).

Besoknya gua bersumpah pada palapa bahwa kalau ketemu lagi, gua akan ajak dia kenalan. Rupanya palapa tidak menghendaki persatuan antar dua sejoli, karena gua ga ketemu dia. Dan juga besoknya. Dan besoknya..

Saat semangat gua mulai surut, justru gue kembali satu busway sama dia. Tapi bahkan Ian Kasella tidak akan mampu melagukan pedih hati gua karena jarak kami terpisah sangat jauh. Dia di bagian depan busway dan gua jauh di belakang. Curi-curi pandang pun susah. Walhasil gua hanya bisa melihat punggungnya melangkah menjauh di halte tempat dia turun.

Hari ini, gue dapat ide. Gua bakal bangun pagi-pagi, naik busway dan turun di halte tempat dia naik, tunggu dia datang, dan saat dia datang, naik busway yang sama dan berdiri deketan. Brilian! Gua hampir ga percaya otak gua bisa secemerlang ini.

Rencana berjalan lancar. Dan di sinilah kami sekarang, dia duduk dan gua berdiri tepat di hadapannya. Gua, dengan kemeja terbaik yang gua punya, yang sering dibilang ganteng kalau pake kemeja ini. Yang bilang ganteng memang nyokap gua doang sih. Anywaaaayyy…

Otak gua memutar kata-kata ngajak kenalan yang memungkinkan.
Halo, saya dapat penglihatan kalau jakarta besok banjir, dan untuk mencegahnya, saya harus berkenalan dengan wanita pertama yang saya temui pagi ini. Kebetulan adalah anda! Ah, terlalu Ki Joko Bodo.
Hai, gua Riyan. Gua udah berapa hari ini merhatiin elo. Hehehe… ga sadar ya kita udah 3 kali loh sebusway! Kamu naik dari halte buncit dan turun di kuningan timur, kan Hehehehe… krikk krikkk eh, jangkrik itu backsound doang kok. Kriiiikk.. kriiiiiiiiiikkkkkk…

Gua memandang si gadis yang sedang menekuni bacaannya. Cantik banget, mbaknyaa, subhanallah. Oke, it’s now or never!

Tapi.. kenalan? Gak? Kenalan!

Tarik napas..

Ehh kok mbaknya tiba-tiba mengangkat wajahnya. Dan, tersenyum! Ke arah gua! Kali ini gua yakin, soalnya gua pun sempet liat-liat ke belakang takut gua ke gr an. Ya Allah, memang rejeki anak soleh. Jangan-jangan mbaknya juga memiliki perasaan yang sama dengan gua.

Lalu dia berdiri sehingga kami sekarang berhadapan. Asli, deg-deg annya ngalahin waktu ketauan cabut sekolah sama Pak Yohanes, si guru killer. Aroma tubuhnya mengisi rongga dada gua. Gua memberanikan diri untuk membuka mulut,
“Ha..”, maksudnya mau ngomong hai tapi dia malah melengos melewati gua yang masih menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

Ternyata sudah sampai halte tujuannya. Dan dia bergegas turun tergesa bersama penumpang lain. Kaki gua lemas. Mata gua panas.

Yah, semoga lebih beruntung lain kali.

*****

Tapi rupanya tidak ada lain kali. Kabar buruknya, hari itu adalah hari terakhir gua bertemu si gadis.

Aamiin…

Di suatu playground:

K: ibu, nanti kalau anak dali pelutmu sudah kelual, nanti dia naik itu (tunjuk ayunan), telus aku yang dolongin ya.. Boleh kan ibu? Dia akan kelual kan ibu?

1. Anak-dari-perutku itu namanya adikmu, sayang..
2. Ya Allah, take it as a prayer from a little girl, would You?

Aamiin…

O My Sleeping Child

I was looking at your sleeping face.

So pretty and peaceful.

I whispered the word slowly, “I love you, Kinan.”

Then you answered me, with eyes shut, “I love you, Ibu.”

There, you just made my day.

My little three-year-old-already angel…

Repost Short Story.. mihihi

Ini cerita kopi paste edit sikit dari blog jadul.. pas dibaca kok masih koheren sama masa kini.. gemess.. hahaha…jadi jadi, pajang pajang duluu

“Dri.. Kayaknya aku gendutan deh..”, ucap Mira tiba-tiba.

Andri melirik pacarnya sekilas dengan ujung mata.”Oh..”, serunya sambil tetap berkonsentrasi pada game di layar komputernya.

“Loh, kok cuma ‘oh’ siiii…”, jawab Mira. Kali ini pita suaranya sudah naik setengah oktaf.

“Tunggu dulu Mir. Itu pernyataan atau pertanyaan?” Jawab Andri lagi sekenanya.

Mira merenggut, “Yaaa, tapi komentarin dooonnnnggg!!”

Lah, yang tadi? Oke.. berarti ini serius, pikir Andri. Dia mempause game nya-yang dia lakukan setengah hati karena timnya sedang diserang habis-habisan- dan memincingkan matanya sok serius lalu berkata, “Enggak kok kayaknya.”, jawabnya kalem.

Mata Mira lalu membelalak. Dia menutup majalah yang sedari tadi dibacanya dan membuangnya ke lantai. Andri sempat membaca judul artikel nya sekilas. Judulnya, Goodbye Fat Look!! Damn, ternyata gara-gara itu.”Enggak gimana?”, suara naik 1 oktaf lagi. Mute! Mute! Mute!
Celana ini aja jadi susah banget dipakenya. Liat deh, jadi ketat banget gini. Biasanya kan longgar. Aku tuh akhir-akhir ini makan mulu kerjaannya. Liat dong pipiku!! Gendutan kan? Ya kan?”, ujar Mira meminta persetujuan.Gawat! Tricky question. Yes or no????
“Emm.. Iya si..”

“Tuh kaaannnn!!! Kamu jadi pacar gimana si? Gak suportif amat!”

Wrong answer!! “Oke.. Oke aku nyerah Mir. Kamu sebenernya pengen dibilang gendut apa enggak si?”

Another Good News: Eleanor and Park is gonna be filmed!!

Bagi anda penggemar Young Adult Genre seperti saiah, ada satu novel lagi yang kurekomendasikan: Eleanor and Park by Rainbow Rowell. Awal-awal baca yang yawn yawn yada yada.. tapi sepertiga baca mulai engaged. Terakhir2 fallin for the male main character, si Park (seperti biasa, terlalu larut pada suasana -_-)

Dan kabar baiknya saudara: novelnya bakal dibuat filmnyaaaa!!!

Not until 2015, sih… tapi secara dua tokoh utama kan kuat ya, yang atu chubby dengan gaya busana nyeleneh dan rambut merah menyala keriting, yang satu cowo korea cantik pemegang sabuk hitam taekwondo, i wonder who will play them. Kayaknya mesti orang baru ya?

Asiiik, another movie to wait for! Ingat, umur boleh menjelang tiga puluh, jiwa harus tetap tiga belas (sembari pijit2 kaki pegel gara2 berdiri di busway).