Posted by: YaNda on: Februari 7, 2010
Disclaimer: postingan ini ga penting. bener-bener ga penting. saya udah ingetin loh kalo ga penting. kalo masih tetep baca, keselnya jangan ke saya ya.
Saya ini orang yang susah banget gendut. Berat maksimal saya 46 kg. Ya berat saya sekarang ini. Baru akhir-akhir ini stabil di 46, biasanya jarum timbangan menyentuh angka 46 sedikit besoknya pasti sakit. Lemak yang sudah dikumpulkan berbulan-bulan, terpaksa ilang 3 kilo dalam waktu 3 hari. hiks..
Makan saya pun banyak. Sebenernya ga banyak sih. Tapi sebanyak apapun porsi makanan yang dihidangkan di hadapan saya, pasti saya habiskan. Mau porsi nasi goreng restoran cina yang biasanya buat makan sekeluarga ataupun cuma indomi goreng, sebenernya cukup-cukup aja bikin perut saya kenyang. Porsi kuli pun saya lahap, sampe semua orang juga bingung liatinnya. Nah, kalo orang yang makannya ga abis, biasanya dikasih ke saya dengan kata-kata,”ayo nda, gw tau porsi lo laah”.. Padahal kan emang moto saya, “habiskan lah nasi di piringmu’. Saya emang ga tega liat nasi nggak abis. Gimana dong?
Bagusnya lagi (bagusnya atau buruknya ya?), usus saya lurus. Dan sepertinya lambung saya malas bekerja dan usus halus saya malas menyerap. Atau mungkin jonjot usus saya ga ada ya? Jadi apa yang masuk, itu lah yang dikeluarkan. Cuma beda bentuk dan warnanya aja. Sehari bisa 3 kali saya p*p.. eh pu*. Mantap ya? Jadi suka sayang kalo makan enak, karena beberapa saat kemudian pasti dikeluarkan.. hiks..
Saya pernah pingsan karena nahan p*p, digotong teman dari lantai 3 sekolah, ke ruang guru, cuma buat minjem WC guru. Pernah juga minum obat, beberapa saat kemudian obatnya keluar lagi lewat bawah dengan bentuk sama ketika diminum: bulat dan berwarna putih, alias ga diolah sama sekali.. ckckck.. ya nasip..
Nah, berhubung akhir-akhir ini saya lapar mulu. Berat badan pun meningkat (walaupun masih mentok di 46). Dari dulu perut saya emang besar karena lemak menumpuk di situ. Dan sekarang tambah besar.. Kalo kata Ijul, “perut lo kayak Jessica Alba hamil 2 bulan”.. T_T Seandainya kelebihan lemak bisa ditransportasikan ke tempat yang lebih membutuhkan seperti pantat dan paha.. Saya punya kebiasaan nahan perut. Jadi supaya perut keliatan rata. Cape boo.. Tapi lama kelamaan jadi terbiasa, malah aneh kalo ga nahan perut.
Saya tau ada yang salah dengan metabolisme saya. Ada yang mengerti bagaimana cara menjadi ‘normal’? Saya kan juga mau berbodi kayak Scarlet Johansson..
ahooo..
Posted by: YaNda on: Februari 5, 2010
Come Closer - Rico Blanco C Em I can feel you in the air Am F Like a silent breeze embrace me C Em I can see you everywhere Am F From the stars to the sea Chorus: C F Am G Ahoooo..what you do to me C F Am G Ahoooo..what you mean to me C Em Am F I cannot wait any longer C Em Am F Come closer to me now.. C Em Am F You smile and I simply surrender C Em Am F Come closer to me now.. Verse2: C Em Every little move you make Am F Sends my heart into a different pace C Em Am F I would gladly dedicate every beat to you Soundtracknya Iklan Close Up.. Soundtrack pagi gue akhir-akhir ini.. Ahoooo.. What you do to me??![]()
Posted by: YaNda on: Februari 3, 2010
A hard rain..
A comfortable room..
A never ending late phone conversation. lame jokes. sleepy voices.
It’s one simple way to end the hard days. Yet, the most perfect one.
Posted by: YaNda on: Februari 2, 2010
Bingung bingung bingung bingung
Pusing pusing pusing pusing
huaaaa…
*random bin fiktif
Posted by: YaNda on: Januari 25, 2010
Dapet tiket muraaahh!!! Plb-Jkt-Plb hanya Rp 495.000 sajah. Itu pulangnya pake Garuda loh!
Hihiw.. Emang kalo niatnya baik, pasti ada jalan. *apa coba?
Pulaaanng!
Posted by: YaNda on: Januari 25, 2010
Aku menatap lagi sekilas pantulan wajahku di cermin. Cantik. Belum pernah aku sendiripun melihat wajahku secantik ini. Mungkin bukan riasanku. Mungkin ini pancaran dari hatiku. Terlihat bening dan bercahaya.
Aku secara tidak sadar tersenyum. Hari ini datang juga.. aku menghela nafas lega. Tiba-tiba ringkasan hidupku berkelebat di hadapanku. Bagaikan sebuah film yang dipercepat. Aku bisa melihat wajah bangga Bapakku ketika dapat melepas tangannya dari setir sepeda roda dua ku. dan Aku berteriak kegirangan karena berhasil menggoes sepedaku sendiri. Aku bisa ingat tangis bahagia di wajah ibuku saat namaku dipanggil ke podium untuk bersalaman dengan rektor pada hari wisudaku.
Lalu ingatanku pindah ke episode lain. Pada cinta-cintaku terdahulu. Pada saat disakiti dan menyakiti. Bahagia dan Limbung. Semuanya membuatku bisa berdiri sebaik ini sekarang.
Namun belum pernah rasanya cinta semanis ini.
“Hei!”, seru kakakku tiba-tiba membuatku tersadar dari lamunanku. Dia menyentuh pipiku pelan sambil tersenyum. Matanya berkaca-kaca. “Cantik.”, katanya pelan. Aku tersenyum.
Sayup-sayup terdengar suara dari ruang tengah rumahku. Tidak ada suara lain kecuali suara calon suamiku dengan tegas mengucapkan akad nikah. Lalu terdengar tanggapan, “Sah!”
Riuh. Suara hela nafas lega. Suara isak tangis.
Kakakku menarik tanganku. “Ayo ta. Kita temui suamimu.”
Aku berjalan pelan keluar kamar. Disanalah dirinya. Ditengah-tengah manusia lain yang bayangannya tiba-tiba mengabur dan pelan-pelan menghilang. Hanya ada aku dan dia.
Tampan. Aku belum pernah melihat dia setampan ini. Pasti bukan karena riasannya. Pasti karena pancaran dari hatinya. Bening dan bercahaya.
Posted by: YaNda on: Januari 21, 2010
A repost from my old blog (again)! Hope you’ll enjoy it!
Namanya Dimas. Dimas Adiseno. Setidaknya itulah satu-satunya hal yang diberikan ibunya saat dititipkan ke Panti asuhan milik kakakku ini, selain selembar pakaian di baju Dimas dan sebotol susu. Dimas berbeda dengan anak-anak lainnya. Not in a bad way.. kakinya bengkok karena kelainan tulang bawaan dari kecil. Dari dulu, hingga sekarang, dia belum pernah merasakan berlari-larian dengan teman sebayanya di sini.
Namun, buat saya, he is so extraordinary. Dari perjumpaan pertama saya dengannya, saya langsung terpikat. Saat itu Dimas sedang menonton teman-temannya bermain bola di halaman panti asuhan. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan temannya yang menggiring bola. Namun, ketika melihat saya yang melintas di hadapannya, dia kemudian tertegun lalu tersenyum. “Mau dong!!!”, teriaknya pada saya. Saya menatapnya heran. Saya pikir dia minta permen chupa chup favorit saya yang sedang saya buka bungkusnya. Dengan enggan, saya akhirnya menyerahkan permen itu padanya. Dia hanya diam dan menggeleng. “Bukan!! Itu!”, ujarnya sambil menunjuk ke buku yang saya bawa di tangan saya yang satu lagi. Buku yang saya bawa itu adalah buku cerita yang saya buat, dan baru saja saya terbitkan. Sebenarnya, saat itu saya datang ke panti asuhan kakak untuk ‘pamer’ keberhasilan saya ini. Dulu beliau suka sekali menyangsikan kemampuan saya menulis cerita. Akhirnya, saya bisa kan menelurkan satu buku. Tentang tema favorit beliau lagi: Anak-anak.
“Buku ini?”, tanya saya pada Dimas. Dimas mengangguk dengan antusias. Saya lalu duduk di sampingnya dan menyerahkan buku itu. “Waahh.. bagus!! Wah, ada gambarnya!! Bagus!”, ujar Dimas. Matanya terlihat membesar sembari membuka lembar demi lembar buku saya. Tanpa sadar saya tersenyum melihat reaksi Dimas. “Dibaca dong!”, ujar saya saat itu. Dimas menggeleng. “Belum bisa baca. Baru lima.”, jawabnya sambil mengacungkan lima jarinya ke arah saya. “Ya udah, mau kakak bacain?”
Dimas mengangguk cepat. Saya pun mengambil buku itu dari tangan kecilnya dan mulai membaca.
***
“Kak Adinda!!!”, sebuah suara menyambut saya ketika saya memasuki ruang tamu panti asuhan. Suara adik kesayangan saya, Dimas. “Mana? Mana?”, angsur Dimas. Saya mengangkat sebuah buku baru dengan bangga. “Tadaaa…”, ucap saya.
“Sini! Sini!”, Dimas mencoba mengambil buku itu dari pegangan saya. Sejak pertemuan pertama kami, Dimas selalu menjadi pembaca pertama buku-buku saya. Secara tidak langsung, dia pulalah yang menjadi motivasi saya dalam menulis buku. Saya selalu tidak sabar melihat ekspresi wajahnya saat membaca buku cerita saya.
Dimas membawa buku itu ke ujung ruang tamu dan duduk anteng di sana. Dia sekarang sudah bisa membaca sendiri. Suatu waktu dia bilang dia sudah tak sabar untuk bisa membaca sendiri karya-karya saya karena menurutnya rasanya akan berbeda. Saya mengikutinya dan duduk di sampingnya. Lama dia membaca (karena masih mengeja) dan saya hanya duduk memandangnya.
Dia lalu mengangkat muka. Saya tak sabar menunggu komentarnya. “Enak banget pangerannya.”, ujarnya.
“Hah?”
“Iya.. Dia cuma berdoa aja bisa dapet putri cantik gitu.”, lanjut Dimas.
“Maksud Dimas?”, tanyaku bingung.
Dimas tiba-tiba tertegun. Matanya memandangku nanar. “Aku suka berdoa sama Tuhan kalo mau tidur, supaya pagi harinya kakiku sembuh. Aku bisa ikutan maen bola sama Agus ma Rinto. Aku bisa lari-larian”, Dimas berhenti lalu memandang kosong ke hadapannya. “Sekarang aku udah berhenti berdoa.”
Saya terpekur mendengar kata-katanya. Lama diam di antara kami. “Cita-cita Dimas apa?”, tanyaku kemudian.
“Hah?”
“Cita-cita. Kalo udah gede mau jadi apa. Harapan Dimas.”, jelas saya.
Dimas terdiam lama. Bisa saya lihat bahwa bagi Dimas, cita-cita malah merupakan hal yang sangat tinggi yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Tukang bajaj!!!”, teriaknya. Dahi saya dibuat mengerut karena jawabannya. “Tu.. tukang bajaj?”
“Iya, kayak bang Soim. Enak tiap hari naik bajaj. Drrrrrrr…”, jawabnya sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya seolah sedang naik bajaj. Saya tertawa dibuatnya. “Boleh deh, tapi jangan jadi tukang bajaj dong. pengusaha bajaj aja ya? yang punya banyak bajaj.”, tawarku.
Dimas berpikir sebentar, lalu mengangguk setuju. “Iya.. boleh..”
“Nah, Kak Din maunya, Dimas terus berdoa sama Tuhan. Karena Tuhan sayang banget sama Dimas.”
“Dimas tuh spesial banget bagi Tuhan. Makanya Dimas dikasih beda. Makanya Dimas gak boleh berhenti berdoa.. Biar berhasil jadi pengusaha bajaj. malah mungkin lebih!”
Dimas tidak menjawab. Berusaha mencerna kata-kata saya. Lalu kemudian dia tersenyum sangat lebar dan mengangguk-angguk. “Siiiippppp!!!!”, teriaknya.
Posted by: YaNda on: Januari 19, 2010
1. My Sister’s Keeper
Melanjutkan cerita yang kemarin, katanya oh katanya novelnya tidak kalah mengharu biru. penasaran.. Ada gak sih di toko buku di Indonesia? *finger crossed*
2. Eat, Pray, Love
Buku ini adalah memoir dari pengarangnya, Elizabeth Gilbert. Setelah ia bercerai dia kemudian berkeliling dunia untuk mencari apapun. Dalam perjalanannya, dia menemukan tiga tempat yang membekas di hatinya: India, Italia, dan Indonesia.
Novel ini juga difilmkan. Bali sempat dibuat heboh lantaran pantai dan pasar-pasarnya ditutup untuk syuting film ini.
3. Negeri 5 Menara
“Man Jadda Wajada” artinya “Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil”.
Itu adalah kalimat mutiara sederhana yang menjadi pegangan para tokoh di novel ini. Belum ngerti sih buku ini tentang apa, tapi sepertinya bisa menjadi motivator yang baik.
Anyone care to buy me those? or one is okay. No?
Well it’s worth the try..
Adios.
Posted by: YaNda on: Januari 18, 2010
Director: Nick Cassavetes (The Notebook)
Casts: Cameron Diaz, Abigail Breslin, Sofia Vassilieva, Jason Patric, Alec Baldwin, Evan Ellingson
Run Time : 109 minutes
Released: June 2009
Sara (Cameron Diaz) dan Brian Fritzgerald (Jason Patric) diberitahu bahwa anak perempuannya yang masih kecil, Kate (Sofia Vassilieva), terkena leukimia dan hanya punya waktu beberapa tahun lagi untuk hidup. Dokter kemudian menyarankan sebuah cara yang agak tidak lazim yaitu agar pasangan itu membuat anak lagi yang gen nya secara spesifik dibuat cocok dengan gen Kate, supaya bisa dipergunakan sebagai Donor untuk proses penyembuhan Kate. Hal ini terjadi karena baik organ kedua orang tua maupun kakak Kate tidak cocok dengan organ Kate.
Masalah timbul ketika Anna (Abigail Breslin) sang anak yang dilahirkan sebagai Donor untuk Kate mulai besar, dan dia menyewa pengacara untuk menuntut kedua orangtuanya agar mendapat hak atas tubuhnya sendiri. Padahal, Kate sedang dalam kondisi kritis, karena ginjalnya tidak bekerja, dan membutuhkan donor ginjal segera.
***
Ceritanya bagus! Mungkin karena diangkat dari novel ya. Dari seperempat pertama film aja udah nangis. Semua pemeran di sini bermain dengan baik. Si Cameron Diaz (yang gue pikir malah bakal bikin film ini cheesy. hee..) bermain baik sebagai mantan pengacara yang mengorbankan segalanya demi kelangsungan hidup sang anak. Si Little-Miss-Sunshine, Abigail Breslin, juga bermain bagus jadi si Adik yang berada dalam posisi dilematis. Apalagi si Kakak yang dalam kondisi kritis, berhasil ditampilkan dengan baik oleh Sofia.
Walopun filmnya lumayan lama, sama sekali ga berbelit-belit dan ga ngebosenin. Dan film ini bukan film suram walaupun bercerita tentang kematian. Film ini adalah film tentang keluarga, dan film tentang pilihan.
Highly Recommended!
Source: http://us.imdb.com/title/tt1078588/
Posted by: YaNda on: Januari 15, 2010
Should I give up or should I just keep chasing pavements
Even if it leads nowhere?
Or would it be a waste even if I knew my place
Should I leave it there?
komentar terbaru