Just You and Me

Let’s go somewhere far..
Just you and me, just you and me..

Let’s go paint sky blue
Just you and me, just you and me..

Let’s run, let’s smile, let’s build the stairs to the sky.

Where no one knows us. Where we could be us.

Just you and me, just you and me.

Indira (part 5) – repost

Di sinilah aku sekarang, duduk di boncengan motor Awan, menjelajahi bagian Pulau Karimun Jawa yang tidak ramai turis. Bau laut yang amis mengiringi sepanjang perjalanan kami. Awan menjanjikan membawa kami ke tempat ‘yang hanya penduduk lokal yang tau’. Siapa yang tidak tergiur?

Tiba-tiba motor kami menepi di puncak perbukitan. Motor Radit dan Bimo ikut berhenti di belakang kami. Awan menunjuk hamparan pasir dan laut yang membentang di kejauhan dan terlihat dari puncak perbukitan ini. Indah sekali.

“Foto-foto gih sana!”, ujar Awan, yang sebenarnya tidak berguna karena ketiga kawannya sudah sibuk dengan kameranya masing-masing.

Aku bergeming memandang pemandangan di sekitarku. Maklumlah, aku kan sudah 3 tahun hidup di hutan beton, jadi melihat warna hijau bertabrakan dengan warna biru seperti ini, hatiku sungguh melonjak.

Awan melirikku, “Ga mau foto-foto? Difoto?”

Aku menggeleng. “Ga usah.”, jawabku singkat. My brain would remember every details of it. And I shall draw it later.

Awan kembali menatapku tajam. Kali ini aku memberanikan menatapnya balik. Kulit Awan coklat. Bibirnya penuh dan dagunya terbelah. Tapi dari keseluruhan wajahnya, mata hitamnya yang tajam memang yang paling menarik perhatian dan dibingkai sempurna oleh alis mata yang tebal. Oh, dan aku baru menyadari di bagian alis mata sebelah kanannya terdapat bekas jahitan sehingga membelah ujung alisnya.

“Oi, jangan lama-lama. Indira siang ini pulang.”, teriaknya pada ketiga kawannya.

Dan kenapa jantungku berhenti berdegup saat dia menyebut namaku?

“Kita mau kemana sih, Wan?”

Dia menatapku sebentar sebelum menjawab, “tunggu aja ya!”

Lalu dia tersenyum.

 

****

Kami tiba di sebuah danau yang sepi pengunjung, hanya ada kami di sini. Danau itu berwarna kehijauan. Sungguh sayang danau ini begini sepi, padahal dia sangat cantik. Untuk mencapai bagian tengah danau kita bisa menggunakan jembatan kayu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sastri membuka bekal yang tadi kami beli di warung di alun-alun kota. Katanya warung itu menawarkan hidangan laut tersegar dan terenak di seantero Karimun Jawa.

Tapi aku sedang tidak terlalu lapar, jadi aku mengeluarkan buku gambarku dan pensil warna yang kubawa di tas. Mulai mengguratkan pemandangan di depanku. Sederhana saja. Tapi kadang orang terlalu jauh mencari, padahal jawaban seringnya sederhana.

“Itu gambarmu?”, seru Awan. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Dia harus belajar berhenti mengagetkanku begini. Aku memasang tampang terganggu namun tetap mengangguk.

“Tapi kamu bilang gambarmu biasa. Kataku bagus. Dan aku bukan orang yang suka memuji.”, bisiknya.

Aku dapat merasakan wajahku merona merah. “Terimakasih, Awan”, kataku akhirnya.

Dia mengangguk.

“Aku harus balik nih. Kapalku berangkat jam 11.”

Dia melirik jamnya. “Oke, aku antar”

 

****

Kami berdiri di depan perahu yang akan membawaku kembali ke daratan Jawa. Kepada kenyataan. “Makasih ya Wan. Salam buat anak-anak”

Awan mengangguk tapi sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya. Mulutnya membuka, lalu diurungkannya, lalu dia menggaruk bekas jahitan di alis kanannya. Lalu dia menarik nafas hendak bicara, tapi tidak jadi lagi.

Aku menatap tingkahnya dengan geli, dua kali sudah hari ini aku melihat orang ini salah tingkah.

“Apa Waaan?”, tanyaku akhirnya sambil berusaha menyembunyikan tawaku.

“Ehem..”, dia membasahi tenggorokannya (yang aku yakin tidak kering sih), “Aku..”, dia berhenti lagi, kali ini menggaruk bekas luka di alisnya. “Aku masih pengen kenal kamu lebih jauh, Indira. Boleh?”, serunya akhirnya menuntaskan kalimatnya. Lalu pipinya memerah.

Aku cukup terkejut mendengar pilihan kalimatnya. Polos sekali ya? Hihi..

Seorang petugas kapal menepuk pundakku, “mbak, mau masuk ga? udah mau jalan.”, katanya.

Aku menatap Awan. Give him a chance? No?

Awan terlihat kikuk sembari terus menggaruk alisnya. Aku tersenyum.

“0813864705”, jawabku sambil berlari ke arah kapal.

“Hah? Apa?”, teriaknya.

“Nomer hpku. 0813864705.”, seruku lagi, sengaja mempercepat bagian aku menyebutkan no handphoneku. Aku kemudian menaiki jembata kayu menuju kapal.

“Aku lagi ga bawa handphone Indiraa!”, serunya dengan muka putus asa. Dia terlihat gelagapan mencari sesuatu di kantong celananya.

“Sampai jumpa Awaan!”, jawabku sambil tertawa di geladak kapal yang berlayar menjauh.

Sampai jumpa Awan. If it’s meant to be then it’s meant to be, no?

 

Thin Red Line

There is this thin red line between loving you and the urge to throw a glass to your head.

You, whose nose wrinkle everytime my friedrice (my one and only dish I can make you) gets too salty.
You, who always kiss me gently every single night before we go to sleep
You, who always pick the opposite football team to my favorite team. We know you are not into football. You just need to tease me.
You, who get tired of my constant whining about why we can’t get a bigger house, why do our car keeps breaking down everytime we use it. It’s funny at first. But it’s tiring after some time, you know?
You, who stop talking, asking, and kissing.

There is this thin red line between loving me and hating me, you say. And then you left.

About Family Values

Salah satu alasan gue tetep mantengin facebook adalah lucu liat orang perang status nyindir dan nyinyir (jiwa geje terpuaskan) dan juga satu group ibuibu yang namanya itbmotherhood.

Aslii ibuibu di itbmh itu keren kereeen.. dari membahas cara pembuatan keramik (kok ada keramik ga halal?) sampe segala macam perkembangan anak pake jurnal terbaru mereka kok tau yaa..

Thread terakhir yang gue ikutin adalah tentang visi dan misi keluarga. Mungkin kita pernah bahas sama pasangan tapi kalau gue si ga pernah membahas yang detil. Para ibu-ibu di sana malah menyediakan waktu khusus untuk membahas masalah ini. Apa yang mau dicapai keluarga dalam jangka waktu setahun, tiga tahun, lima tahun? Bisnis apa yang mau dikerjakan? Nilai-nilai apa yang kita mau anak kita anut dan pegang?

Setelah dijabarkan semua, mereka lalu membuat strategi dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya dalam bentuk point. Misalnya kita mau nilai pertama yang anak anut tentang taat kepada Allah, maka strategi apa yang dilakukan. Pendekatan tiap anakpun berbeda disesuaikan sama karakter dan umur si anak. Semakin anak besar, dia juga akan dilibatkan dalam blue print rencana keluarga tersebut.

Selain itu, visi dan misi tersebut dievaluasi per semester. Dilihat kemajuannya, dilihat pendekatan apa yang salah, dan lain-lain.

Asli itu gue me.rin.dinggg…

Kok pada hebat-hebat amat siiih…

Gue sama Gumi memang suka bahas apa rencana setaun, dua tahun ke depan lalu kita siapkan pos sesuai rencana kita tapi itu semacam merencanakan detil. Sementara rencana besar atau  big picture keluarga ini mau gimana sih, ya ga ada. Keinginan kita masih berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Kalau untuk Kinan, karena anaknya linguistik, pendekatan gue dalam ngajarin dia ya dengan omongan. Perlu diingat, anak memang lahir bagai kertas polos, tapi gue percaya bukan kertas putih. Mereka sudah membawa warna-warna tertentu.

Kalau Kinan, ia akan bertanya kenapa harus begini dan begitu, tapi kalau jawaban gue masuk di akal dia, dia akan ikutin. Dan bagusnya kalau dia udah ikutin, dia akan konsisten.

Tentang taat agama, gue pengennya dia taat bukan karena dia takut, tapi karena dia cinta. Misalnya pas gue mau sholat, dia bilang jangan bu! Instead of gue bilang, “ga boleh gitu Kinan, nanti Allah marah kalau ibu ga sholat!” Gue bilang, “kenapa kok jangan? Ibu kan mau berterimakasih sama Allah, ibu sehat, ayah sehat, Kinan sehat itu kan dari Allah, jadi ibu mau berdoa ngucapin terimakasih lewat sholat ya.”

Mungkin terdengar simpel, tapi rasanya ada perbedaan signifikan yang akan diterima otak (dan mudah-mudahan hati) nya.

Selain itu yang mau gue tanamkan juga sifat berbesar hati, sportif, dan tanggung jawab. If you do it, you gotta be responsible for it. Sekarang banyak banget orang yang kalau ada hal yang ga berjalan sesuai rencana, salahin orang lain. Kalau ga ada orang lain yang bisa disalahin, salahin keadaan. Pokoknya semua salah selain dia. Padahal yang salah ya dia. Banyaaak banget orang kayak gini. Ini pasti orang-orang yang waktu kecil kejedot lemari, lemarinya yang dipukul sama mamaknya.. -_-
Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah kalau anak melakukan kesalahan jangan diceng-cengin. Jangan dibikin malu. Kasih tau dia salah. Kasih tau harusnya gimana. Terus peluk. That’s that. Kalau diceng-cengin besoknya dia ga akan ngaku dia salah. Besoknya dia nyalahin orang.

Yang perlu diingat, pembentukan karakter itu semua berasal dari rumah. Sekolah? Ya harus dipilih yang sesuai sama nilai yang memang sudah ditentukan orangtua. Jadi tugas orangtua bukan cuma lahirin, kasih makan, masukkin sekolah. IMO, character is what makes a person, a person.

Berat, memang. Lalu apakah gue akan membuat nilai-nilai keluarga dalam sebuah blue print? Maybe not. Seenggaknya sampai sekarang belum.

But I salute those who do. Keren abisss…

Ada yang mau sharing family valuesnya di sini kakk? Mau belajar doongg..

One (Lost) Shot

Keringat gua mengucur deras. Tangan basah. Lidah kelu. Tapi untung ga sampe pipis di celana. Eh, gak kan? Sebentar, periksa dulu. Ehem, lanjut. Bukan, gua bukan abis nonton rapat DPR sehingga jadi mual. Gua justru sedang menatap gadis cantik yang sudah seminggu belakangan mengisi mimpi gua.

Kenalan? Gak? Kenalan? Enggak! Kenalan, cupu!

Arrghh!!

Rewind ke beberapa hari ke belakang, pagi itu gua bangun dengan perasaan gamang, karena Song Hye Kyo baru tau dia dikhianati ‘kakak’ kesayangannya. Eh, rewindnya kebanyakan. Fast forward dikit. Pagi itu gua gelantungan di busway sembari ngantuk banget karena nonton drama korea sampe jam dua malam. Tapi ngantuk gua langsung hilang begitu gadis ini masuk. Kalau di iklan-iklan, ini bagian si gadis berjalan dengan rambut panjang tertepa angin, dengan background beberapa laki-laki melongo memandanginya. Tapi bedanya ga ada angin. Dan si gadis ga make dress merah seksi. Dan laki-laki yang memandangi dengan tampang bodoh cuma gua. Kalau ibaratnya dia medan magnet, gua adalah serpihan besi yang tertarik ke arahnya tanpa bisa melawan. Larut dalam pesonanya. Asli, cewe tercantik yang pernah gue liat! Setelah nyokap gua tentu, karena gue belum mau dikutuk jadi batu. Si gadis berdiri di sebelah gua dan gua yakin debaran jantung gua kedengeran sama dia. Iya, sekencang itu.

Malam itu gua menghabiskan waktu mikirin dia, mengingat caranya mendorong kacamata yang melorot dari pangkal hidungnya. Mendengar tawa renyah kecilnya saat membaca novel yang dia bawa (undomestic goddess. Harus cari weekend ini. Eh lupa, sejak kapan gua baca chicklit?). Sembari curi-curi lirik waktu dia membalas pesan-pesan di handphone dari temannya (antara naksir sama kepo beda tipis).

Besoknya gua bersumpah pada palapa bahwa kalau ketemu lagi, gua akan ajak dia kenalan. Rupanya palapa tidak menghendaki persatuan antar dua sejoli, karena gua ga ketemu dia. Dan juga besoknya. Dan besoknya..

Saat semangat gua mulai surut, justru gue kembali satu busway sama dia. Tapi bahkan Ian Kasella tidak akan mampu melagukan pedih hati gua karena jarak kami terpisah sangat jauh. Dia di bagian depan busway dan gua jauh di belakang. Curi-curi pandang pun susah. Walhasil gua hanya bisa melihat punggungnya melangkah menjauh di halte tempat dia turun.

Hari ini, gue dapat ide. Gua bakal bangun pagi-pagi, naik busway dan turun di halte tempat dia naik, tunggu dia datang, dan saat dia datang, naik busway yang sama dan berdiri deketan. Brilian! Gua hampir ga percaya otak gua bisa secemerlang ini.

Rencana berjalan lancar. Dan di sinilah kami sekarang, dia duduk dan gua berdiri tepat di hadapannya. Gua, dengan kemeja terbaik yang gua punya, yang sering dibilang ganteng kalau pake kemeja ini. Yang bilang ganteng memang nyokap gua doang sih. Anywaaaayyy…

Otak gua memutar kata-kata ngajak kenalan yang memungkinkan.
Halo, saya dapat penglihatan kalau jakarta besok banjir, dan untuk mencegahnya, saya harus berkenalan dengan wanita pertama yang saya temui pagi ini. Kebetulan adalah anda! Ah, terlalu Ki Joko Bodo.
Hai, gua Riyan. Gua udah berapa hari ini merhatiin elo. Hehehe… ga sadar ya kita udah 3 kali loh sebusway! Kamu naik dari halte buncit dan turun di kuningan timur, kan Hehehehe… krikk krikkk eh, jangkrik itu backsound doang kok. Kriiiikk.. kriiiiiiiiiikkkkkk…

Gua memandang si gadis yang sedang menekuni bacaannya. Cantik banget, mbaknyaa, subhanallah. Oke, it’s now or never!

Tapi.. kenalan? Gak? Kenalan!

Tarik napas..

Ehh kok mbaknya tiba-tiba mengangkat wajahnya. Dan, tersenyum! Ke arah gua! Kali ini gua yakin, soalnya gua pun sempet liat-liat ke belakang takut gua ke gr an. Ya Allah, memang rejeki anak soleh. Jangan-jangan mbaknya juga memiliki perasaan yang sama dengan gua.

Lalu dia berdiri sehingga kami sekarang berhadapan. Asli, deg-deg annya ngalahin waktu ketauan cabut sekolah sama Pak Yohanes, si guru killer. Aroma tubuhnya mengisi rongga dada gua. Gua memberanikan diri untuk membuka mulut,
“Ha..”, maksudnya mau ngomong hai tapi dia malah melengos melewati gua yang masih menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

Ternyata sudah sampai halte tujuannya. Dan dia bergegas turun tergesa bersama penumpang lain. Kaki gua lemas. Mata gua panas.

Yah, semoga lebih beruntung lain kali.

*****

Tapi rupanya tidak ada lain kali. Kabar buruknya, hari itu adalah hari terakhir gua bertemu si gadis.