Bocor Alus

Seperti yang udah pernah tersiratkan di beberapa postingan yang lalu, bulan November kemarin lumayan kelabu.

Mungkin karena Kinan masuk rumah sakit plus hape ilang plus bokek karena hotel buat dinas ditalangin dulu sendiri plus diambekin nyokap tralala trilili..

Salah satu efek langsung adalah ke dompet ya kaka #ternyatabokek

Hal ini menyebabkan kami mengencangkan ikat pinggang pengeluaran sekencang kencangnya.. huhu…

Jadi November kemarin itu dinisbahkan jadi No-Mall-November \(^0^)/

Waktu awal-awal masih bulan sempet nraktir-nraktir ulangtahun tapi setelah itu tergelepar tak berdaya. Bener-bener yang ke semua pengeluaran diitungin gituuw.. sampe pas belanja bulanan aja yg biasa beli 2 jadi 1 sembari cubit ayah, “kita ga punya uang, ayaah”
“Oh iya” *balikin lagi

Soal ga ada duit ini lucu juga, mungkin Kinan denger pembicaraan gue sama gumi, terus suatu waktu nenis bilang suruh gue beliin appaaa gitu buat kinan terus kinan jawab, “ibu lagi ga ada uang, nenis” hihi sok tau yaa.. sok tau yang manis.

Kembali ke laptop, black november ini menyebabkan kita ga ke mal sama sekali bulan lalu. Bahkan gue ga makan siang di luar. Bahkan gue ga ke AMBAS selama sebulan. NOT EVEN AMBAS!

Jadi kan gue jurig ambas yaaa.. yang dalam sminggu bisa sampe 3x ke ambas. Dari yang sekedar cuma beli dvd bajakan, cari kaos dalam kinan, sampe yang ngidam wong solo atau beli kado. Aku sakau, looh..

Tanpa disadari kebiasaan gue ngambas, lalu kebiasaan gue makan siang di luar, itu menyebabkan bocor-bocor kecil. Karena ke ambas ga mungkin cuma beli dvd doang dong. Pasti cuci mata ke toko buku, baju, atau sekadar ngemil ngemil. Apalagi makan siang di kokas dan mal-mal lain yang berjejer di spanjang kuningan. Abis makan siang lalu satu lipstik terbeli, satu helai baju masuk tas, dll. Terus nanti wiken tetep ke mall lagi.

Lalu, ada penemuan abad 21 yang bernama online shop. When everything is as easy as clicks. Pernah suatu waktu ada paket ke rumah terus gue yang, eh, ini yang pesen kapan? Saking sering belanjanya T-T

Bocor alus kaaa…

Eh terus sampe sekarang, terhitung sampe tanggal 10 Desember ya, gue masih belum nafsu looh nge-mol (even ambas) maupun beli-beli online shop gitu. Padahal dalam tahap mesti ngambas karena harus beli emas buat arisan gembok.. hahaha.. ini Gumi harusnya segera menyematkan pin istri teladan nih..

Katanya kan butuh waktu 30 hari untuk menjadikan suatu hal kebiasaan. Makanya puasa ramadhan kan sebulan penuh, biar ritual-ritual yang kita lakuin selama puasa kayak tilawah atau sholat sunah jadi kebiasaan dan bisa dibawa seterusnya.

Di gue juga jadi kebiasaan nih.. hehehe.. horeee.. ke depannya mungkin gue bakal tetep lah ngambas apa ngemol pas lunch time tapi bakal lebih disiplin ke pengeluaran. Kalau perlu dijatahin, maksimal buat bocor-bocor alus gini berapa atau seminggu sekali aja bolehnya.

Btw, butuh 30 hari buat ngilangin kebiasaan jajan pas lunch time tapi kayaknya buat kembali ke kebiasaan itu cuma butuh sekali kunjungan ambas, deh, hahaha.. wish me luck!

Ter-tertusuk

“Aku tidak suka ayah tidak disini. Aku sedih, ayah tidak usah kerja, tidak usah punya uang. Seperti ini saja,” seru kinan dengan mata berkaca-kaca saat ayahnya izin kembali ke Prabumulih.

O how my heart shattered to thousands pieces.

We love you, you know we do, rite baby girl?

InsyaAllah sebentar lagi kita barengbareng terus ya ayah, ya..

Aamiin..

Just You and Me

Let’s go somewhere far..
Just you and me, just you and me..

Let’s go paint sky blue
Just you and me, just you and me..

Let’s run, let’s smile, let’s build the stairs to the sky.

Where no one knows us. Where we could be us.

Just you and me, just you and me.

Indira (part 5) – repost

Di sinilah aku sekarang, duduk di boncengan motor Awan, menjelajahi bagian Pulau Karimun Jawa yang tidak ramai turis. Bau laut yang amis mengiringi sepanjang perjalanan kami. Awan menjanjikan membawa kami ke tempat ‘yang hanya penduduk lokal yang tau’. Siapa yang tidak tergiur?

Tiba-tiba motor kami menepi di puncak perbukitan. Motor Radit dan Bimo ikut berhenti di belakang kami. Awan menunjuk hamparan pasir dan laut yang membentang di kejauhan dan terlihat dari puncak perbukitan ini. Indah sekali.

“Foto-foto gih sana!”, ujar Awan, yang sebenarnya tidak berguna karena ketiga kawannya sudah sibuk dengan kameranya masing-masing.

Aku bergeming memandang pemandangan di sekitarku. Maklumlah, aku kan sudah 3 tahun hidup di hutan beton, jadi melihat warna hijau bertabrakan dengan warna biru seperti ini, hatiku sungguh melonjak.

Awan melirikku, “Ga mau foto-foto? Difoto?”

Aku menggeleng. “Ga usah.”, jawabku singkat. My brain would remember every details of it. And I shall draw it later.

Awan kembali menatapku tajam. Kali ini aku memberanikan menatapnya balik. Kulit Awan coklat. Bibirnya penuh dan dagunya terbelah. Tapi dari keseluruhan wajahnya, mata hitamnya yang tajam memang yang paling menarik perhatian dan dibingkai sempurna oleh alis mata yang tebal. Oh, dan aku baru menyadari di bagian alis mata sebelah kanannya terdapat bekas jahitan sehingga membelah ujung alisnya.

“Oi, jangan lama-lama. Indira siang ini pulang.”, teriaknya pada ketiga kawannya.

Dan kenapa jantungku berhenti berdegup saat dia menyebut namaku?

“Kita mau kemana sih, Wan?”

Dia menatapku sebentar sebelum menjawab, “tunggu aja ya!”

Lalu dia tersenyum.

 

****

Kami tiba di sebuah danau yang sepi pengunjung, hanya ada kami di sini. Danau itu berwarna kehijauan. Sungguh sayang danau ini begini sepi, padahal dia sangat cantik. Untuk mencapai bagian tengah danau kita bisa menggunakan jembatan kayu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sastri membuka bekal yang tadi kami beli di warung di alun-alun kota. Katanya warung itu menawarkan hidangan laut tersegar dan terenak di seantero Karimun Jawa.

Tapi aku sedang tidak terlalu lapar, jadi aku mengeluarkan buku gambarku dan pensil warna yang kubawa di tas. Mulai mengguratkan pemandangan di depanku. Sederhana saja. Tapi kadang orang terlalu jauh mencari, padahal jawaban seringnya sederhana.

“Itu gambarmu?”, seru Awan. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Dia harus belajar berhenti mengagetkanku begini. Aku memasang tampang terganggu namun tetap mengangguk.

“Tapi kamu bilang gambarmu biasa. Kataku bagus. Dan aku bukan orang yang suka memuji.”, bisiknya.

Aku dapat merasakan wajahku merona merah. “Terimakasih, Awan”, kataku akhirnya.

Dia mengangguk.

“Aku harus balik nih. Kapalku berangkat jam 11.”

Dia melirik jamnya. “Oke, aku antar”

 

****

Kami berdiri di depan perahu yang akan membawaku kembali ke daratan Jawa. Kepada kenyataan. “Makasih ya Wan. Salam buat anak-anak”

Awan mengangguk tapi sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya. Mulutnya membuka, lalu diurungkannya, lalu dia menggaruk bekas jahitan di alis kanannya. Lalu dia menarik nafas hendak bicara, tapi tidak jadi lagi.

Aku menatap tingkahnya dengan geli, dua kali sudah hari ini aku melihat orang ini salah tingkah.

“Apa Waaan?”, tanyaku akhirnya sambil berusaha menyembunyikan tawaku.

“Ehem..”, dia membasahi tenggorokannya (yang aku yakin tidak kering sih), “Aku..”, dia berhenti lagi, kali ini menggaruk bekas luka di alisnya. “Aku masih pengen kenal kamu lebih jauh, Indira. Boleh?”, serunya akhirnya menuntaskan kalimatnya. Lalu pipinya memerah.

Aku cukup terkejut mendengar pilihan kalimatnya. Polos sekali ya? Hihi..

Seorang petugas kapal menepuk pundakku, “mbak, mau masuk ga? udah mau jalan.”, katanya.

Aku menatap Awan. Give him a chance? No?

Awan terlihat kikuk sembari terus menggaruk alisnya. Aku tersenyum.

“0813864705”, jawabku sambil berlari ke arah kapal.

“Hah? Apa?”, teriaknya.

“Nomer hpku. 0813864705.”, seruku lagi, sengaja mempercepat bagian aku menyebutkan no handphoneku. Aku kemudian menaiki jembata kayu menuju kapal.

“Aku lagi ga bawa handphone Indiraa!”, serunya dengan muka putus asa. Dia terlihat gelagapan mencari sesuatu di kantong celananya.

“Sampai jumpa Awaan!”, jawabku sambil tertawa di geladak kapal yang berlayar menjauh.

Sampai jumpa Awan. If it’s meant to be then it’s meant to be, no?

 

Thin Red Line

There is this thin red line between loving you and the urge to throw a glass to your head.

You, whose nose wrinkle everytime my friedrice (my one and only dish I can make you) gets too salty.
You, who always kiss me gently every single night before we go to sleep
You, who always pick the opposite football team to my favorite team. We know you are not into football. You just need to tease me.
You, who get tired of my constant whining about why we can’t get a bigger house, why do our car keeps breaking down everytime we use it. It’s funny at first. But it’s tiring after some time, you know?
You, who stop talking, asking, and kissing.

There is this thin red line between loving me and hating me, you say. And then you left.

About Family Values

Salah satu alasan gue tetep mantengin facebook adalah lucu liat orang perang status nyindir dan nyinyir (jiwa geje terpuaskan) dan juga satu group ibuibu yang namanya itbmotherhood.

Aslii ibuibu di itbmh itu keren kereeen.. dari membahas cara pembuatan keramik (kok ada keramik ga halal?) sampe segala macam perkembangan anak pake jurnal terbaru mereka kok tau yaa..

Thread terakhir yang gue ikutin adalah tentang visi dan misi keluarga. Mungkin kita pernah bahas sama pasangan tapi kalau gue si ga pernah membahas yang detil. Para ibu-ibu di sana malah menyediakan waktu khusus untuk membahas masalah ini. Apa yang mau dicapai keluarga dalam jangka waktu setahun, tiga tahun, lima tahun? Bisnis apa yang mau dikerjakan? Nilai-nilai apa yang kita mau anak kita anut dan pegang?

Setelah dijabarkan semua, mereka lalu membuat strategi dan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya dalam bentuk point. Misalnya kita mau nilai pertama yang anak anut tentang taat kepada Allah, maka strategi apa yang dilakukan. Pendekatan tiap anakpun berbeda disesuaikan sama karakter dan umur si anak. Semakin anak besar, dia juga akan dilibatkan dalam blue print rencana keluarga tersebut.

Selain itu, visi dan misi tersebut dievaluasi per semester. Dilihat kemajuannya, dilihat pendekatan apa yang salah, dan lain-lain.

Asli itu gue me.rin.dinggg…

Kok pada hebat-hebat amat siiih…

Gue sama Gumi memang suka bahas apa rencana setaun, dua tahun ke depan lalu kita siapkan pos sesuai rencana kita tapi itu semacam merencanakan detil. Sementara rencana besar atau  big picture keluarga ini mau gimana sih, ya ga ada. Keinginan kita masih berubah-ubah dari waktu ke waktu.

Kalau untuk Kinan, karena anaknya linguistik, pendekatan gue dalam ngajarin dia ya dengan omongan. Perlu diingat, anak memang lahir bagai kertas polos, tapi gue percaya bukan kertas putih. Mereka sudah membawa warna-warna tertentu.

Kalau Kinan, ia akan bertanya kenapa harus begini dan begitu, tapi kalau jawaban gue masuk di akal dia, dia akan ikutin. Dan bagusnya kalau dia udah ikutin, dia akan konsisten.

Tentang taat agama, gue pengennya dia taat bukan karena dia takut, tapi karena dia cinta. Misalnya pas gue mau sholat, dia bilang jangan bu! Instead of gue bilang, “ga boleh gitu Kinan, nanti Allah marah kalau ibu ga sholat!” Gue bilang, “kenapa kok jangan? Ibu kan mau berterimakasih sama Allah, ibu sehat, ayah sehat, Kinan sehat itu kan dari Allah, jadi ibu mau berdoa ngucapin terimakasih lewat sholat ya.”

Mungkin terdengar simpel, tapi rasanya ada perbedaan signifikan yang akan diterima otak (dan mudah-mudahan hati) nya.

Selain itu yang mau gue tanamkan juga sifat berbesar hati, sportif, dan tanggung jawab. If you do it, you gotta be responsible for it. Sekarang banyak banget orang yang kalau ada hal yang ga berjalan sesuai rencana, salahin orang lain. Kalau ga ada orang lain yang bisa disalahin, salahin keadaan. Pokoknya semua salah selain dia. Padahal yang salah ya dia. Banyaaak banget orang kayak gini. Ini pasti orang-orang yang waktu kecil kejedot lemari, lemarinya yang dipukul sama mamaknya.. -_-
Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah kalau anak melakukan kesalahan jangan diceng-cengin. Jangan dibikin malu. Kasih tau dia salah. Kasih tau harusnya gimana. Terus peluk. That’s that. Kalau diceng-cengin besoknya dia ga akan ngaku dia salah. Besoknya dia nyalahin orang.

Yang perlu diingat, pembentukan karakter itu semua berasal dari rumah. Sekolah? Ya harus dipilih yang sesuai sama nilai yang memang sudah ditentukan orangtua. Jadi tugas orangtua bukan cuma lahirin, kasih makan, masukkin sekolah. IMO, character is what makes a person, a person.

Berat, memang. Lalu apakah gue akan membuat nilai-nilai keluarga dalam sebuah blue print? Maybe not. Seenggaknya sampai sekarang belum.

But I salute those who do. Keren abisss…

Ada yang mau sharing family valuesnya di sini kakk? Mau belajar doongg..