Kaki undul undul..

Laras dibeliin spatu yang ukuran 1-2 tahun kok ga muat. Masuk aja ga bisa. Pas anaknya dibawa ke toko sepatu, muatnya pake ukuran 23, karena kakinya ndut. Panjangnya masih jauh, tapi lebarnya ngepas. 

Wekeke.. Sehat terus ya Naque ibu..

kakiku undut ya bu?

Catatan Puasa Ibu (6 tahun terakhir)

Alhamdulillah ketemu Ramadhan lagi, dan sekarang sudah sampai di ujuuungnya. Bagaimana Buibu puasa dan ibadahnya? Lancar? InsyaAllah, aamiin..

Ternyata ya, selama (hampir) 6 tahun pernikahan, 2 tahunnya dilalui sebagai ibu hamil, dan 2 tahunnya sebagai ibu menyusui. Alhamdulillah bisa merasakan puasa (hampir) full, karena pas hamil dua-duanya pas usia kandungan sdh besar (7 dan 8 bulan kalau ga salah) jadi mantep ikut puasa; dan pas nyusuin pas anaknya udah pada lulus ASIX (9.5 dan 10.5 bulan) jadi rada tenang karena dah pada makan. Pun pas nyusuin dua-duanya ini masih belum dapet haid, jadi harusnya bisa pol.

Harusnya..

karena pada kenyataannya sih, dalam 4 tahun itu ada bolongnya 2-3 hari karena ga mau maksain kan, jadi kalau ada keluhan lebih mengutamakan berbuka daripada maksain. Kalau tahun ini, InsyaAllah batal 1x, mudah-mudahan 1 hari itu sahaja.

note lain, tahun ini sungguh malas beli baju lebaran apapun itu jadi maaf ya nakanakku, kita berdayakan koleksi almari saja xp

selamat menikmati ibadah hari-hari terakhir Ramadhan. semoga kita termasuk orang-orang yang layak menyebut Idup Fitri ini sebagai hari kemenangan.

Tahan Bersamaku

“Aku mungkin tidak bisa membuatmu tertawa bahagia. Tapi satu yang pasti, selama denganku, aku tidak akan membiarkanmu meneteskan sedikitpun air mata. Karena itu aku harap kau mau tahan bersamaku.”

Dan itulah cuplikan kata-kata pemeran utama laki-laki ke pemeran utama perempuan di tengah hujan deras di depan rumah si perempuan. Dalam MIMPI gua. Iyaa, mimpi beneran  semalem😐

Asli, di dalam mimpi aja gua drama (dan sedikit dangdut) :))

Gejala khas Demam Berdarah/Demam Dengue; Edisi Revisi

Di post yang ini, pada point nomor 1 ay bilang kalau gejala demam berdarah adalah demam yang mendadak tinggi. Yang rupanya, sekarang tidak berlaku lagi. Heeee…

Sebulanan yang lalu, suhu badan Kinan naik, anget-anget gitu. Disertai batuk dan pilek.. Langsung lega, pemikirannya adalah kalau batuk pilek kan confirm virus. Ditunggu seminggu juga aman. Gue ga pernah kasih obat apapun kalau buat batuk pilek gitu. Sampe nyokap dan suster ga tegapun kalau denger Kinan batuk sampe muntah-muntah, gw cuma bilang: kasih  minum yang banyak, pijet pake bawang, kamar diuap, jemur. Kalau gue kasih obat, justru gue yang tega sama sistem kekebalan tubuh dia yang lagi berkembang, jadi manja. Yaaa.. dulu sih mikirnya gitu. Sampai kejadian kemarin itu.

Itu mulai anget hari sabtu, kamis akhirnya gue bawa ke dokter karena kok jadi panas dan lemes anaknya. Selain itu si adek juga kena batuk dan pilek, tapi ini pake bunyi ngikkk ngiiikk (but that’s another whole story😦 ) Pas diukur di rumah sakit sudah 40 derajat. Gue kaget karena diukur di rumah masih 37. Dokter bilang cek darah karena memang lagi musim DB, dan dzinnggg.. positif virus dengue.

Gua merasa kecolongan. Gue tanya dokter, “Dok, kok bisa sih ada batpil tapi kena db juga? Katanya kalau DB itu gejala tunggal ga mungkin ada batuk dan pilek juga?”

“Teorinya begitu bu. Pada prakteknya, ya enggak. Sekarang sudah ga gitu. Jadi harus tetap waspada ya ibu.”

Karena sudah hari kelima, fase selanjutnya adalah panas turun yang justru fase kritis. Alhamdulillah hari minggu sudah turun panasnya, tapiii radangnya masih ada. Pelajaran kedua bagi gue, batpil tidak selamanya virus. Berdasarkan hasil lab kinan, ada kenaikan pada leukosit terutama di sel batang. Menurut dokter, kalau yang naik sel batang, berarti disebabkan bakteri (hasil googling gue kemudian, sel batang memang sel darah putih yang bertugas untuk memerangi infeksi bakteri). Jadi ya harus diobati pake antibiotik.

Kriikk… Kriiikkk.. *jewer kuping* *jamur kuping*

Whatever it is, episode sakit itu melelahkan fisik dan batin (anak dan ibu). Mudah-mudahan abis ini nakanak sehat terus aamiinn..

spoiler alert: tentu tidak, habis itu Kin sudah sakit lagi. The long befriended disease of hers: Otitis Media with effusion.

 

Dayuh di Hari Rabu

Pagi ini, Kinanti terbangun lebih lambat dari biasanya. Hingga jam 06.30 waktunya aku harus berangkat, dia belum juga bangun. Sementara Laras Ayu sudah sibuk triak triak sembari merayap dari jam 5 pagi :p

Jam 6, Laras Ayu mulai nangis-nangis serba salah. Digendong ga mau. Dikasih susu nangis aja. “cecceeeh.. ceceeeeh”, katanya.

Saat akhirnya Kinanti bangun, Ibu berbisik ke Kinan, “Nan, ke adek dulu gih. Pengen main sama Kinan kayaknya.”

Kinanpun mendatangi Adiknya. Didudukin bareng, dan tetiba adeknya berteriak “Toyeeeee!”, sembari tepuk tangan ala bayi dan tersenyum lebar. Mulailah ritual tarik-tarik rambut kakak lalu cowel cowelnya.

Ya ampun, jadi kangen sama Kakak ni ceritanya?

Hatiku dayuh..:)

Kurang Bayar yang Kurang Ikhlas

Postingan blog ini mau menumpahkan sedikit kekesalan sama ya ada berbaginya juga sih dikit aja tapi. Buat bahan pertimbangan kalau-kalau ada yang ngalamin kasus serupa. Tapi lebih banyak ke uneg-uneg sajah. Jadi, pardon my rant ya..

Jadi gini, seperti yang suda pernah dicritakan di blog ini, pada pertengahan tahun lalu gue pindah dari Anak Perusahaan ke Holding. Ini perpindahannya masih internal perusahaan aja loh, jadi mutasi aja sebenernya. Tapi akibatnya, ada dua pemberi kerja/pemotong pajak jadinya. Semuanya bermula di sini.

Jadi, misal kantor aku adalah kantor A dan kantor B. Di kantor A, aku kerja dari januari ke Juli, dapat gaji total sebesar X. Sejumlah X itu, kena plafon potongan pajak yang 25%. Lalu dari Agustus sampai Desember, di kantor B, dapat gaji total sebesar Y, juga kena plafon potongan pajak 25%.

Pada saat lapor pajak kemarin, kedua bukti potong itu dijumlahkan. Naaah, jika X+Y itu dijumlahkan eik jadi kena plafon potongan pajak yang 30%. Lalu sisa perbedaannya itu (potongan 25% jadi 30%) yang menjadikan eike kurang bayar.

Ikhlas ga? Terus terang ikhlas ga ikhlas. Kalau kurang bayarnya sikit si ya udalah. Kalau kurang bayar gue sekarang ini, bagi gue ya banyak. Jumlahnya itu, buat bayar uang pangkal SD incaran Kinan aja masih kembali :(((

Yang kadang gue sebel itu juga, kalau kurang bayar ditagihin terus dah tuh sama orang pajaknya. Giliran lebih bayar, syarat minta restitusi banyak banget. PBB 5 tahun ke belakang lah, dan lain-lain, dan lain-lain; lalu orang pajaknya bilang, dinihilkan saja daripada repot. Rrrrr… Pernah eike lebih bayar 300ribu, okelah dinihilkan. Temen lebih bayar 3juta juga akhirnya dinihilkan daripada repot. Hmmmm….

Akhirnya si kurang bayar itu ya gue bayar. Tapi dengan aga mangkel, hahahaha.. Mana pas gue bayar, temen gue orang pajak bilangnya, “terimakasih Yanda, sudah membantu kami mencapai target” RRRRRRRR (2)

Pokoknya jadinya berusaha merapel mantra ini, “Kalau uangnya milik gue, ya harusnya ga bermasalah. Kalau uangnya bermasalah, berarti bukan milik. Kalau memang ternyata itu milik, bakal balik lagi. Dalam bentuk apapun.”

AAMIIN..

Dan satu lagi, moga-moga bener-bener dipake ya tu duit buat bangun-bangun negara.

PS: buat jadi bahan pertimbangan, kalau mau pindah kantor, mending di awal tahun biar ga kejadian kaya gua.

Sekian dan terima koin untuk Yanda

 

 

Mencari Kesetimbangan Baru

Selesai membaca blognya Mbak Febrie Yang ini (silent reader comes out of closet :p) dan mengangguk-angguk sepenuhnya dan sedalam-dalamnya pada semua point di post tersebut.

Kemarin, pada suatu acara internal Eksplorasi, Ada yang bertanya kepada Pak Direktur, “harga minyak kapan naik kira-kira Pak?”

Si Bapak kemudian menjawab, “seharusnya pertanyaannya bukan begitu. Tapi bagaimana perusahaan bisa menyesuaikan diri dengan harga minyak begini. Ini kan harga minyak sedang mencari titik kesetimbangan baru. Yang harus dipikirkan, dengan harga minyak segini, apa yang harus dilakukan sehingga perusahaan tetap bisa berjalan dan akhirnya stabil pada harga mintak sekian. Yang tadinya kita biasa begini, jadi begitu. Yang tadinya bisa begini, ya dikurangi.”

Dipikir benar juga. Daripada menunggu sesuatu yang ga pasti (kapan harga minyak naik lagi) dengan kemungkinan ya emang harga kesetimbangan baru minyak ya begini, jadi ya ga bakal naik lagi; lebih mending kita yang menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini.

JLEB.

*hitung ulang cashflow*