Kota Tua: The Lost and Artful City

Liburan Idul Adha kemarin, saya dan keluarga memutuskan untuk jalan-jalan ke Kota Tua. Idenya sih muncul dari saya. Sebenarnya, saya iri sama adik saya. Jadi ceritanya, sekolah adik saya mengadakan karyawisata ke Kota Tua dan dia pulang membawa oleh-oleh sejambreng foto. Fotonya keren-keren. Hampir gak percaya kalo bangunan-bangunan seperti itu memang benar-benar ada di Jakarta.

Berhubung rumah saya di Jakarta Selatan dan si Kota Tua ini adanya di Jakarta Utara, jadilah kami harus Tour de Jakarta. Naik Busway dari ujung bawah sampe ujung atas. Lumayan tua di jalan sih. Pake acara dimarahin petugas karena makan di busway lagi. Maap Pak, saya beneran gak tau. Tapi untung petugasnya baik, soalnya pas rotinya udah tinggal segigit baru dia ngingetin. Hahaha..

Kota Tua ini letaknya hanya sekitar 200 meter dari halte busway Kota. Saran saya sih jalan saja. Toh trotoarnya juga lumayan besar dan nyaman. Tapi kalau lagi mau jalan-jalan unik, silahkan dicoba ojek sepedanya. Ojek sepeda ini sangat mudah ditemui di daerah Kota.

Tujuan utama ke Kota Tua ini adalah ke Museum Fatahillah atau Museum Sejarah Jakarta. Dan ternyata Bung, Kota Tua memang seindah hasil jepretan foto adik saya. Wah, saya jadi malu. Selama ini saya tinggal di Jakarta kok baru sadar ada daerah seperti ini di Jakarta ya. Hehe.. Kalau naik Busway sampai ujung, tujuannya pasti belok ke Mangga Dua atau ke Dufan.

Untuk masuk ke Museum ini, untuk dewasa dikenakan biaya Rp 2000/orang dan Rp 500/orang untuk anak-anak. Sangat terjangkau kan? Museum Fatahillah luasnya 13000 meter persegi. Bangunan ini dibuat pada tahun 1700an dengan tujuan sebagai Balaikota. Sempat beralih fungsi menjadi Kantor Gubernur Jawa Barat lalu menjadi markas militer pada waktu jaman Jepang. Akhirnya pada tahun 1974 dijadikan Museum Sejarah Jakarta.

ini nih, Museum Fatahillahnye

Lantai 1 isinya kurang lebih pernak-pernik kebudayaan Betawi dan Jakarta dari jaman pra sejarah sampai masa kini. Saya sempet foto sama ondel-ondel loh. Hehe.. Lantai dua berisi furnitur-furnitur jaman Belanda. Dari mulai lemari buku setinggi atap sampai meja makan. Kayu berumur ratusan tahun itu masih terlihat sangat mengkilap dan kokoh. Selain itu banyak juga lukisan-lukisan petinggi Belanda jaman itu. Yang saya paling ingat sih fotonya J.P Coen sama Pak Daendels. Maklum, kedua tokoh itu sering banget muncul di buku sejarah. Baru sekali itu ketemu muka sama lukisan asli mereka. Huehehe..

Yanda dan Ondel-ondel

Nah, ruang bawah tanahnya yang rada menarik untuk diceritakan. Ada beberapa ruangan kecil, gelap, dan pengap berukuran sekitar 8×5 m. Isinya ada puluhan bola besi bertumpuk-tumpuk. Tadinya saya pikir itu martil. Tapi ternyata, ruangan tersebut adalah ruangan penjara bawah tanah. Dan bola-bola besi itu buat diikatkan ke kaki para narapidananya. Konon berat satu bola itu sampai 100 kilogram. Dulu, satu ruangan penjara tersebut bisa diisi puluhan orang sekaligus. Mereka menunggu giliran untuk dihukum mati di halaman depan Balaikota. Hii, saya jadi tak menghabiskan waktu lama-lama di situ. Auranya gak enak!

Penjara ini menghadap ke halaman belakang. Di halaman belakang ini lah diletakkan patung Dewa Hermes dan Meriam si Jagur. Maaf gak ada fotonya, soalnya hujan sih. Jadi gak sempet jeprat-jepret deh.

Tur di Museum Fatahillah selesai. Sebenarnya ada dua museum lagi di daerah ini, yaitu museum wayang dan museum seni rupa. Tapi hujannya sudah tambah deras sih. Jadi dua museum itu terpaksa dilewat. Lain kali pasti mampir! Kami langsung berjalan pulang ke terminal busway lagi. Tapi tenang aja, saya berhasil mengambil beberapa koleksi foto adik saya di dua museum itu. Saya pajang juga nih..

Idup gak yaaa??     si unyil

Overall, Kota Tua sangat menarik. Bisa menjadi tempat wisata yang keren kalau lebih dirapihkan dan dipromosikan lagi. Pas saya datang, ada banyak Bapak dan Ibu bule kok. Mereka pada sibuk memencet-mencet mesin tourist guide yang disediakan. Mesinnya sebesar mesin ATM. Sayang, waktu saya lihat, ternyata isinya bukan tentang info tentang museum Fatahillah tetapi malah informasi tempat-tempat menginap.

Masuk ke lingkungan Kota Tua seperti masuk ke dimensi lain. Benar-benar berbeda dengan imej kota Jakarta yang lekat dengan Bangunan tinggi (atau malah justru bangunan reyot?). Satu kompleks isinya gedung-gedung tua dan bersejarah berusia ratusan tahun. Buat saya sih wisata ini berkesan sekali. Jadi, saya merekomendasikan tempat ini untuk anda yang belum pernah datang, sedang bingung mau jalan-jalan kemana, atau mungkin sedang bengong di rumah.

di perjalanan pulang, becek becek becek

Selamat jalan-jalan..

2 thoughts on “Kota Tua: The Lost and Artful City

  1. Christine berkata:

    oioi kak yanda.. hahah.. ngmg2 yah.. aku lama tinggal di jakarta.. paling gak, sering ke sana juga tapi gak pernah tuh ke sana… hmm, you got nice photos.. hehe jadi pengenn…

    bagus2 kak.. jadi duta wisata jakarta via blog-post kakak…

    keep scratching..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s