Lama-lama Ivan jadi terbiasa dengan tatapan-tatapan itu. Tatapan-tatapan wanita kalau melihatnya. Yang selalu mengikutinya kalau dia lagi di mal atau di tempat keramaian lainnya. Kadang-kadang suara ‘ah’ dan ‘oh’ mereka sampai ke kuping Ivan. Awalnya Ivan memang risih dengan tatapan-tatapan itu. “ha ha ha”, tawa Ike kencang saat Ivan bercerita tentang hal itu. Ike adalah sahabatnya ketika di Amerika dulu. Ivan mendapat beasiswa S2 reservoir engineering dari kantornya dan Ike di tingkat akhir jurusan PR. Mereka sering bertemu karena merasa sebagai teman satu bangsa di negri asing. Akhirnya persahabatan itu berlanjut hingga sekarang saat mereka kembali tenggelam di arus ibukota. Ivan jadi kebingungan, “Something’s funny?” “They do it because you’re georgeus Van!”, lanjut Ike tenang sambil menyeruput capucinonya. Ivan menggelengkan kepala. “Gw gak ngerti ke. It never happened before. Gak di Surabaya, gak di Texas. Gak pernah! Baru di Jakarta aja jadi kayak gini smua.” “Satu, lo dulu gak kayak gini Van. Sejak lo balik dari Texas, lo jadi berubah aja. Gue inget ko waktu pertama kali ketemu di Texas lo gak sekeren sekarang” Ivan tersedak mendengar penjelasan Ike. Ike hanya senyum-senyum kecil. “Dua, you’re dealing with some-single-late-twenty-women yang pemikirannya udah ke pernikahan and then here you come, everything that woman wants from a husband is in you. Mereka jadi buas!”, lanjut sambil tetap kegelian sendiri. “Yah, mau gimana lagi Van..” *** Akhir-akhir ini pandangan mata mereka jadi semakin menjadi. Kalau dulu mereka hanya berbisik atau tersenyum-senyum kalau melihat Ivan, sekarang mereka tambah liar. Tak jarang mereka jelas-jelas membicarakan Ivan di depannya, memanggil-memanggil namanya, atau sengaja menjentikkan matanya di hadapan Ivan. Semua itu sejak suatu jumat sore di sebuah kafe. “Masuk artikel majalah lo?” Ike mengangguk semangat. “Mereka minta bachelor, good looking, good body, good career, dan orang pertama yang comes through my mind is you!” “Sori Ke, kali ini gue gak bisa bantu lo!” “Oh, come on Van. Lo cuma dateng, satu dua kali jepretan, wawancara sebentar. Selese. Paling lama 2 jam. Pliiiiissss….”, pinta Ike dengan tatapan minta tolong mautnya itu. “Ke, apa untungnya buat gue?” “Apa ruginya?”, Ike nyengir lebar. Ivan terdiam selama 3 menit. Dia mengangkat bahu dengan pasrah. “Wuaa.. Thanks Fan.” Ike menatap jam tangannya. “Ups, gotta go. Dah Ivan. Eh, jangan lupa bawa clana renang lo ya. Waktunya gw kabarin lagi.”, ujar Ike sambil melangkah pergi dari mejanya. “Apa?” Ike berbalik. “Gue belom bilang ya? ceritanya artikel itu adalah cowo single dengan their favorite sport. Elo suka renang kan?” *** Majalah itu sudah terbit sebulan yang lalu. Ivan sendiri tidak pernah membacanya. Tepatnya, dia tidak sanggup membacanya. Sejak itu, semua semakin menjadi-menjadi. Pandangan dari cewek-cewek single seantero jakarta, ejekan dari teman-teman sekantornya yang tak henti-hentinya memanggilnya “my swimming suit bachelor”, sesuai judul artikel majalah itu. Ivan menarik napas panjang. Kalau saja bukan Ike yang minta, dia pasti sudah menolaknya. Sejak kapan ya, dia sudah jatuh hati pada wanita enerjik itu. Dia sendiri sudah lupa. Yang pasti perasaannya tumbuh seiring dengan persahabatan mereka. Handphone Ivan berbunyi. Ike calling. “Ya ke?” “Ai Van, dimana?” “Masih di kantor ni. Gue mau ke lapangan soalnya besok. Kenapa Ke?” “Van, selamat ya. Gak salah gue ngejagoin lo. Lo dapet 45% suara. Hampir separo Van!”, seru suara di ujung sana dengan ceria. “Wait, wait. Did I miss something?” “gue belom cerita ya?” “Belom!”, jawab Ivan cepat. “…” “Ke?” “Lo gak baca majalahnya ya?” “Nggak”, Ivan mulai mencium sesuatu yang salah. “…” “Ke?” “Van, eng, artikel kemaren itu artikel wajib tiap bulan. di artikel kemaren ada empat bachelor yang eligible. Pembaca di suruh milih dari empat itu their favorite buat bersaing bareng 11 bachelor lainnya buat jadi bachelor of the year. trus..” “I won”, bisik Ivan. “Iya.”, balas Ike tak kalah pelannya. “…” “Van?” “…”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s