My Little Bestfriend

A repost from my old blog (again)! Hope you’ll enjoy it!

Namanya Dimas. Dimas Adiseno. Setidaknya itulah satu-satunya hal yang diberikan ibunya saat dititipkan ke Panti asuhan milik kakakku ini, selain selembar pakaian di baju Dimas dan sebotol susu. Dimas berbeda dengan anak-anak lainnya. Not in a bad way.. kakinya bengkok karena kelainan tulang bawaan dari kecil. Dari dulu, hingga sekarang, dia belum pernah merasakan berlari-larian dengan teman sebayanya di sini.

Namun, buat saya, he is so extraordinary. Dari perjumpaan pertama saya dengannya, saya langsung terpikat. Saat itu Dimas sedang menonton teman-temannya bermain bola di halaman panti asuhan. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan temannya yang menggiring bola. Namun, ketika melihat saya yang melintas di hadapannya, dia kemudian tertegun lalu tersenyum. “Mau dong!!!”, teriaknya pada saya. Saya menatapnya heran. Saya pikir dia minta permen chupa chup favorit saya yang sedang saya buka bungkusnya. Dengan enggan, saya akhirnya menyerahkan permen itu padanya. Dia hanya diam dan menggeleng. “Bukan!! Itu!”, ujarnya sambil menunjuk ke buku yang saya bawa di tangan saya yang satu lagi. Buku yang saya bawa itu adalah buku cerita yang saya buat, dan baru saja saya terbitkan. Sebenarnya, saat itu saya datang ke panti asuhan kakak untuk ‘pamer’ keberhasilan saya ini. Dulu beliau suka sekali menyangsikan kemampuan saya menulis cerita. Akhirnya, saya bisa kan menelurkan satu buku. Tentang tema favorit beliau lagi: Anak-anak.

“Buku ini?”, tanya saya pada Dimas. Dimas mengangguk dengan antusias. Saya lalu duduk di sampingnya dan menyerahkan buku itu. “Waahh.. bagus!! Wah, ada gambarnya!! Bagus!”, ujar Dimas. Matanya terlihat membesar sembari membuka lembar demi lembar buku saya. Tanpa sadar saya tersenyum melihat reaksi Dimas. “Dibaca dong!”, ujar saya saat itu. Dimas menggeleng. “Belum bisa baca. Baru lima.”, jawabnya sambil mengacungkan lima jarinya ke arah saya. “Ya udah, mau kakak bacain?”
Dimas mengangguk cepat. Saya pun mengambil buku itu dari tangan kecilnya dan mulai membaca.

***

“Kak Adinda!!!”, sebuah suara menyambut saya ketika saya memasuki ruang tamu panti asuhan. Suara adik kesayangan saya, Dimas. “Mana? Mana?”, angsur Dimas. Saya mengangkat sebuah buku baru dengan bangga. “Tadaaa…”, ucap saya.
“Sini! Sini!”, Dimas mencoba mengambil buku itu dari pegangan saya. Sejak pertemuan pertama kami, Dimas selalu menjadi pembaca pertama buku-buku saya. Secara tidak langsung, dia pulalah yang menjadi motivasi saya dalam menulis buku. Saya selalu tidak sabar melihat ekspresi wajahnya saat membaca buku cerita saya.

Dimas membawa buku itu ke ujung ruang tamu dan duduk anteng di sana. Dia sekarang sudah bisa membaca sendiri. Suatu waktu dia bilang dia sudah tak sabar untuk bisa membaca sendiri karya-karya saya karena menurutnya rasanya akan berbeda. Saya mengikutinya dan duduk di sampingnya. Lama dia membaca (karena masih mengeja) dan saya hanya duduk memandangnya.

Dia lalu mengangkat muka. Saya tak sabar menunggu komentarnya. “Enak banget pangerannya.”, ujarnya.
“Hah?”
“Iya.. Dia cuma berdoa aja bisa dapet putri cantik gitu.”, lanjut Dimas.
“Maksud Dimas?”, tanyaku bingung.
Dimas tiba-tiba tertegun. Matanya memandangku nanar. “Aku suka berdoa sama Tuhan kalo mau tidur, supaya pagi harinya kakiku sembuh. Aku bisa ikutan maen bola sama Agus ma Rinto. Aku bisa lari-larian”, Dimas berhenti lalu memandang kosong ke hadapannya. “Sekarang aku udah berhenti berdoa.”

Saya terpekur mendengar kata-katanya. Lama diam di antara kami. “Cita-cita Dimas apa?”, tanyaku kemudian.
“Hah?”
“Cita-cita. Kalo udah gede mau jadi apa. Harapan Dimas.”, jelas saya.
Dimas terdiam lama. Bisa saya lihat bahwa bagi Dimas, cita-cita malah merupakan hal yang sangat tinggi yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Tukang bajaj!!!”, teriaknya. Dahi saya dibuat mengerut karena jawabannya. “Tu.. tukang bajaj?”
“Iya, kayak bang Soim. Enak tiap hari naik bajaj. Drrrrrrr…”, jawabnya sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya seolah sedang naik bajaj. Saya tertawa dibuatnya. “Boleh deh, tapi jangan jadi tukang bajaj dong. pengusaha bajaj aja ya? yang punya banyak bajaj.”, tawarku.
Dimas berpikir sebentar, lalu mengangguk setuju. “Iya.. boleh..”
“Nah, Kak Din maunya, Dimas terus berdoa sama Tuhan. Karena Tuhan sayang banget sama Dimas.”
“Dimas tuh spesial banget bagi Tuhan. Makanya Dimas dikasih beda. Makanya Dimas gak boleh berhenti berdoa.. Biar berhasil jadi pengusaha bajaj. malah mungkin lebih!”
Dimas tidak menjawab. Berusaha mencerna kata-kata saya. Lalu kemudian dia tersenyum sangat lebar dan mengangguk-angguk. “Siiiippppp!!!!”, teriaknya.

One thought on “My Little Bestfriend

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s