Moving On

Jempol kananku yang memegang trackball mendadak membeku. Keraguan mulai menyelimuti perlahan. Tekan tombol enter? Jangan?

Sebenarnya, apalagi yang kuinginkan? Jalan hidup kami jelas sudah menuju ke arah yang berbeda.

Tapi kenapa aku masih ingin selalu tahu keadaannya? Kenapa aku masih suka membuka album-album fotonya? Atau membuka profil teman-teman barunya yang tak ku kenal? Atau tak sabar menunggu up-date an status terbarunya?

Sebenarnya apa yang kucari? Sedangkan keadaannya sesungguhnya bukan urusanku lagi. Lalu kenapa aku masih menangis saat beberapa minggu lalu status single nya berubah menjadi in a relationship? Dan wallnya perlahan dipenuhi kata-kata sayang dari satu gadis yang sama.

Dan aku mulai membandingkan diriku dengan gadis itu. Mencari-cari kekurangannya sehingga aku bisa membuat diriku merasa tenang dan berkata “ah, aku jauh lebih baik dari dia”.

Dan mengutuk-ngutuknya karena telah membuat hatiku begitu sakit. Remuk. Merasa dikhianati. Padahal perasaanku bukan tanggung jawabnya lagi.

Tapi walau begitu, aku tak jera. Masih juga rajin membuka halamannya. Meski aku tau hasil akhirnya sebenarnya selalu sama. Air mata yang menggantung perlahan di pelupuk mata. Yang mengalir terus sampai aku tertidur. Dan lubang besar yang tertinggal di hati. Kosong.

Apa yang kau inginkan sebenarnya Annisa?

Aku menarik napas pelan, melihat nanar ke halaman profil kecil di layar ponselku.

Klik.

Are you sure you want to remove Anggipa Pradana from your friend list?

Aku menutup mata saat mengarahkan mouse ku ke arah yes.

Klik.

That’s it. I’m moving on.

Dapat kurasakan satu dua bulir air mata perlahan menetes.

“Beib maaf ya, telat banget!”, seru sebuah suara tergesa di belakangku.

Dengan satu sapuan lembut untuk menghapus air mata dan senyuman manis di bibir aku membalik badan dan memasang nada manja.

“Iya, kamu nih, tega banget deh bikin aku nunggu satu jam. Traktir!”, jawabku dengan senyum menggoda.

Goodbye, you.

4 thoughts on “Moving On

  1. YaNda berkata:

    sepertinya 2 dari 3 komentator di atas mengalami cerita yang sama dengan cerita tersebut.

    Kesamaan jalan cerita dan tokoh merupakan unsur ketidaksengajaan loh yaaa..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s