Sang Abu

Disclaimer: Gak sengaja, ternyata cerpen ini pas 100 kata.. Enjoy..😀

Seperti abu. Teronggok dan perlahan terbawa angin. Seolah dulunya dia tidak penting. Penting atau tidak, toh api sudah melahapnya tanpa sisa.

Itulah kenanganku padamu. Pada cerita kita. Pada tatapan mata pertama yang tidak diduga bertemu di tengah bising beratus orang lainnya. Pada senyuman tersembunyi tiap kali berpapasan tidak sengaja. Pada sentuhan tangan malu-malu di bawah meja. Pada jeda sunyi yang menentramkan saat berdua. Pada janji-janji di bawah pohon akasia. Pada teriakan kita pada langit dan bintang di Bukit sana.

Semuanya tidak penting lagi. Sekarang, api sudah memakannya.

Kau memilih jalanmu. Dengannya..

Kini saatnya meniup sang abu pergi, dan menapaki jalanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s