Ketika Kenangan Kembali (pt. 01)

Ia melangkahkan kaki pelan. Mencoba menyatukan lagi ingatan yang tetiba berhamburan di pikirannya. Memandang sekeliling dengan tak sabar. Mengingat serpihan kenangan, dan menyatukannya.

Seperti baru kemarin. Jalanan ini, taman itu; semuanya hampir tak berubah. Seperti baru kemarin saja ia meninggalkannya. Hanya saja mainan-mainan di taman itu sekarang sudah berkarat. Terakhir dia tinggalkan, masih baru.

Entah kenapa dia masih ingat setiap detil dari tempat ini. Begitu lekat di pikirannya. Di hatinya. Apa karena dia memimpikannya tiap malam? Apa karena diam-diam ia merindukannya?

Dan di sinilah dia.

Sebuah rumah tua besar. Yang 18 tahun yang lalu ditinggalkannya.

Tetapi masih persis sama. Ayunan itu. Bangku teras itu. Persis sama seperti dalam mimpinya.

Haruskan ia mengetuk?

Ia menarik napas panjang, lalu mengetuk pintu pagar.

Sekali. Dua kali.

Sebuah muka tua membuka pintu. Wajah resah wanita itu berganti kaget melihat wajahnya. “Dinda?”

Ia mengangguk.

“Masuklah Dinda. Semua sudah menunggu.”

‘Semua?’ Pikirnya dalam hati. ‘Siapa?’ Pikirnya lagi. Ia melangkah dalam ragu. Yang ia tidak tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s