Pre-Marital Syndrom

Beberapa minggu yang lalu, seorang teman dari Gumi menikah. 3 hari sebelum menikah, terlibatlah mereka dalam pembicaraan via BBM.

Gumi: Gimana X rasanya mau nikah.
X (disamarkan demi kepentingan bersama): kok gue males ya Gum. Malesss!
G: loh?
X: Iye. Males Gue. Ini aja W (calon estrinya) daritadi nelpon-nelpon ga gue angkat.
G: Jangan gitu lah X.
X: Males Gum. Gue ga mau tambah tua! (Demikian ungkap bocah berumur 29 tahun ini)
G: Nyesel ya? (Dan Gumi mulai jail)
X: iya nih. Ga mau tambah tua. Nyesel gua!
G: iya, wajar kayak gitu.
X: Lo dulu gitu juga?
G: iya, tanya aja Z (temen mreka yg lain) pasti dulu sempet ngerasain gitu juga.
G: tapi jangan sampai nyuekin cw lo lah X. Soalnya yang mereka rasain saat ini berbanding terbalik sama yg kita rasain.
X: rasanya nikah gimana sih Gum?
G: Menyenangkan kok. Dan lega. Apalagi kalau udah punya anak, smua buat anak deh.
X: iya ya?
Dan karena pembicaraan mengarah pada anak, konversasi dilanjutkan dengan hal-hal yg anonoh.

Kocak yaaa.. Trus suamiku bijak deh. Pengen towel ga sih?

Few days later we came to their wedding. Happy and sparkling. Not a single doubt in his face.

Besoknya Gumi BBM dia lagi, “Gimana rasanya nikah, X?”

“Bersyukur.”, jawabnya.

*back sound aaaaaaaawww ala sitkom*

2 thoughts on “Pre-Marital Syndrom

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s