Unfinished Business

“Heh, kenapa nangis?”

Aku menoleh ke sumber suara itu. Dia berdiri di Sana. Aku kenal dia. Anak laki-laki itu anak kelas empat, lebih tua dua tahun dariku.

Aku menunjuk bonekaku yang tersangkut di pohon mangga di hadapanku lalu menyeka sisa air mata di pipiku.

Dia mengikuti arah yang kutunjuk. “Siapa yang taro di situ?”, tanyanya lagi.

Aku menunjuk sekelompok anak yang sedang bermain bola di lapangan. Lalu aku menangis lagi.

“Heh, jangan cengeng!”, bentaknya.

Aku terkesiap lalu setengah mati menahan tangisku.

“Kuambilin. Tapi..”, dia berhenti sejenak, “tapi Ada syaratnya ya.”
“Apa?”, seruku lemah.
“Kalo udah gede, jadi istriku yaaa!”, teriaknya sambil berlari ke arah pohon.

Beberapa detik kemudian, boneka itu sudah mendarat di depanku.

Dua bulan setelah itu, anak laki-laki itu pindah dari sekolahku.

********

“Lo… sehat ken?”
Aku mengangguk serius.
“Heh, itu Rio kurang baek apa, Kenya!”
“Ih, Riri, lo ngomong kayak gue mau selingkuh aja deh ah!”
“Terus?”, Tanya Riri.

Aku menghela nafas. Aku ini sebenarnya mau apa, aku juga ga ngerti. But, I gotta do this. I know I gotta do this.
“Gue ga mau serius sama satu laki-laki, sembari penasaran soal dia, Ri..”, jawabku pelan.
“Tapi Ken, ini udah dua puluh taun yang lalu deh kejadiannya. Dan semenjak insiden boneka whatever itu, lo juga ga pernah ngobrol sama dia kan? Bisa aja dia iseng. Ngasal. Usil. Come on, cantik.”

Aku diam lagi. Mengaduk capucinnoku pelan. Tapi bagaimana kalau seluruh hatiku bilang until mencari dia?
“I just need a closure, ri. Untuk nuntasin penasaran gue. Itu aja.”
“Yakin?”, tanyanya cepat. Pertanyaan yang sama kebetulan juga baru ditanyakan oleh hatiku.
“Gimana kalau dia sekarang penjahat?”
Aku tergelak, “kebanyakan baca Conan, lo!”
Dia juga tertawa. “Oke, gimana kalau terjadi hal yang lebih buruk. Lo jatuh cinta sama dia?”

Aku terkaget mendengar pernyataannya. Tiba-tiba jantungku berdebar. Aku melirik sekilas cincin berlian di jari manisku, pemberian Rio semalam. Aku memaksakan tawa. “Ga lah. Ga mungkin.”

Riri menatapku tajam. Menilaiku. Dia lalu menggelengkan kepala pelan lalu tertawa. “My hopelessly romantic friend.”, ujarnya pelan.

To be continued

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s