12 November

Pagi ini aku terbangun dengan perasaan gamang yang sama. Dengan mimpi yang sama. Tiap malam. Tanggal 12 November. Tidak apa, akan segera membaik sebentar lagi.

Kucium kening anakku yang masih tertidur lelap di samping ayahnya. “Titip ya, bentar.” Kataku pada suamiku yang mengangguk pelan setengah sadar. “Kamu gak papa kan?” Tanyanya.
Aku mengangguk dan tersenyum.

Aku menaiki mobil dan meluncur perlahan menuju toko kueku di ujung jalan. Si toko kue sederhana, namun hangat. Dimana kutempatkan lebih dari sekedar ambisi dan cita-cita di sana. Ada cinta yang selalu kuselipkan. Untuk alasan yang akan segera kau tahu kenapa.

Kuambil sebuah kotak yang tersimpan rapih di kulkas toko, beres-beres sedikit, lalu kembali memasang tanda closed dan mengunci pintu toko. Kalau pelanggan tetap toko sih biasanya sudah tahu, setiap tanggal ini toko akan buka agak telat. Sudah 3 tahun begitu.

Aku kembali menaiki mobil. Kali ini menyusur agak jauh. 30 menit perjalanan. Setelah sampai kuparkir mobil di depan pintu gerbang.

Aku memasuki gerbang perlahan. Sepi. Ya, jarang yang sudah berkunjung jam 7 pagi. Bahkan penjaga belum ada yang kelihatan batang hidungnya. Dari jalan utama aku belok kanan, lalu belok kiri di jalan setapak. Setelah pohon aku mengambil jalan ke kiri. Dua petak di sebelah pohon adalah tempatnya berada.

Aku memandanginya. Nisan ibuku.

Kamu tidak pernah tahu sebesar apa seseorang menempati ruang di hatimu. Sampai dia pergi dan membawa bagiannya. Dan meninggalkan hatimu begitu kosong.

“Pagi, ibu..” ujarku.

Aku membuka kardus di tanganku. Sebuah kue ulangtahun.

“Yayi, ibu kalo ulangtahun mah cukup dikasih cheesecake buatan kamu ya.”
“Ah ibu, kalo cheesecake aja mah tiap hari bisa yayi bikinkan, bu. Yang special kalo buat ulangtahun mah”
“Justru karena setahun sekali jadi spesial. Apa yang lebih spesial dari kue buatan kamu untuk ibu, sih?”
“Toko kuemu, jangan khawatir ya yi. Kuemu adalah kue paling enak sedunia”

Aku menyalakan lilin di atas cheese cakeku. “Selamat ulangtahun, bu. Terimakasih”, bisikku sambil meniup lilin yang redup bersamaan dengan jatuhnya setetes airmata di kueku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s