Indira (Part 3)

Kami sampai ke tempat persinggahan terakhir hari ini: Tanjung Gelam. Kedua rombongan yang berbeda itu langsung berpencar mencari titik bagus untuk foto-foto sembari menunggu matahari tenggelam. Tempat ini memang cantik. Dengan pantai pasir putihnya yang datar dan pohon kelapa yang menjulang. Persis seperti yang ada di brousur-brosur wisata. Klimaks dari perjalanan kami hari ini. Ditutup dengan indah.

Aku sengaja berjalan menjauh dari kerumunan. Menjatuhkan pantatku di pasir. Ombak sedikit-sedikit menyapu telapak kakiku. Aku tenggelam dalam perasaan magis. Bagaimana aku si peragu bisa terdampar di sini sendirian, memunculkan ekstase di darahku. I beat my self, don’t I?

Aku menatap lautan di sekelilingku, menarik nafas panjang, dan menutup mata. Berusaha merekam pemandangan sore ini, agar aku bisa melukisnya nanti malam, di kamar seorang penduduk setempat yang disewakan dengan harga yang terlalu murah rasanya. Buku sketsa dan pensil warnaku sudah menunggu. Aku lalu tersenyum. Karena rasanya terlalu damai.

Lalu pundakku ditepuk. Aku membuka mata dan melihat si pemuda pemilik mata tajam yang di perahu tadi terang-terangan tersenyum padaku. Senyumku langsung menghilang. Mau apa dia?

“Kamu gak ikutan foto-foto?”, tanyanya sembari menunjuk rombongan di belakang dengan jempolnya.

Aku menggeleng. Dia lalu ikut-ikutan duduk di sampingku. “Kenapa?”, tanyanya lagi.

“Kamu sendiri kenapa enggak?”, aku balik bertanya. Kesal juga ditanya-tanya.

Dia terkekeh, “karena, lebih menarik di sini kayaknya.”, jawabnya santai. Lalu aku berdebar-debar lagi. Jantungku kampungan ih. Kenapa tiba-tiba berkhianat gini.

Aku kembali menyibukkan diri melihat matahari di hadapanku yang perlahan meluncur turun. Apapun untuk mengalihkan perhatianku dari orang di sampingku. Kami diam begitu selama beberapa saat.

“Kamu emang ga suka ngomong, ya?”, tanya laki-laki itu tiba-tiba.

Aku tertawa. Tak bisa kutahan. Baru satu orang ini yang bilang aku pendiam. “Aku lagi menikmati pemandangan. Buat kuingat-ingat.”

“Kalau begitu, lebih efektif difoto.”, lanjutnya. Aku baru menyadari kalau suaranya begitu berat.

“Mau kugambar. Tapi pensil sama bukunya ketinggalan di kamar.”

Dia terlihat terkejut, “Kamu pelukis?”

Aku menggeleng. “Aku suka ngelukis. Tapi sayangnya aku lawyer. Corporate lawyer sih.”

“Jadi, kamu pelukis atau lawyer?”

Aku terdiam, “Ya, aku suka lukis setengah-setengah. Dan yah, jadi lawyer juga setengah-setengah.” Aku tersenyum miris.

Matahari yang perlahan menghilang seolah ditelan lautan menghentikan obrolan kami. Aku terpana. Semburat warna orange mulai meninggalkan langit mengikuti pemilik sinar pulang ke peraduan.

“Cantik”, ujar pemuda di sampingku. Aku mengangguk tanda setuju lalu menatapnya. Namun, ternyata si pemuda tidak sedang menatap horison sana. Dia sedang menatapku lekat, sedari tadi.

Lalu saat itu aku merasakannya. Ribuan kupu-kupu rasanya bergerak liar di perutku. Menyentak-nyentak ke dadaku membuat detak jantungku menjadi kencang dan beraturan. Darah berdesir tak karuan ke sana kemari.

Anggi salah, butterfly in stomach is not overrated. Dan Anggi lupa bilang kalau gejala-gejala di atas juga diikuti dengan rasa menipisnya oksigen. Paru-paruku megap-megap mencari udara.

Damn, I must be looking like a fool right now.

 

 

 

 

3 thoughts on “Indira (Part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s