Indira

Aku menyesap tehku dalam-dalam. Sebenarnya aku sudah harus beranjak mandi kalau tidak ingin terlambat ke kantor. Tapi, hujan rintik begini. Dan kegalauan hati begini. Alasan yang solid untuk berlama-lama minum teh di balkon apartemenku. Memandang jauh ke gedung-gedung pencakar langit yang menghiasi langit Jakarta. Sembari memikirkan percakapan semalam dengan Anggi, sahabatku.

****

“Dia nanya lagi, Nggi.” kataku sembari memasukkan potongan steak ke mulutku.

“Indra?”

Aku mengangguk.

“Ngomongnya gimana, kali ini?”, sambung Anggi sahabatku yang langsung meletakkan garpu dan pisaunya.

“Yaaa, same old. Kalau kita udah tua, yang mana halooo baru dua lima gituuu, anyway, dia bilang sekarang bukan saatnya main-main. Dia pengen tau ke arah mana hubungan kita. Yadaa yadaa..”, jawabku. Merangkum perdebatan kemarin dengan Indra, laki-laki yang paling dekat denganku sekarang.

Tak kusangka Anggi malah tertawa. “Yang riwil gitu biasanya perempuan yaa..”

Aku mau tak mau tersenyum mendengarnya, “I’m charming like that”

Lalu Anggi mendadak terdiam. “Tapi serius Dir. Beneran. Sebenernya apa yang lo mau sih? Maksud gue, Indra bukannya ngajak lo nikah besok juga sih. Dia cuma mau tau, kalian itu apa. Stat.”

Aku lalu meminum es jerukku. Sengaja berlama-lama. Sebenarnya kami ini apa?

“Nggi, lo dulu yakin kalau David is the one, gimana?”

“Heeeh, kok jadi gue?”

“Jawaaab..”

Anggi menghela nafas. “Gue random objectnya waktu dia ngambil foto di kota tua. Pas dia liat hasilnya, dia bilang he fell in love with me instantly. Terus dia datengin gue dan..”

“Dan?”

“Butterflies in my stomach, Indiraaa. So I knew. We knew. Just like that.”

Aku menatap Anggi dalam. Senang untuknya. Sekaligus iri padanya. Sahabatku yang sekarang-tanpa dia sadari-sedang mengelus cincin di jari manisnya dengan jempolnya. Yang tiga bulan lagi akan mengakhiri masa lajangnya.Dan senyum indah yang tidak terasa tersungging di mukanya. 

“Nah, gue ga pernah ngerasain sensasi kayak gitu kalau sama Indra, Nggi. Gue cuma merasa nyaman di sampingnya. Karena dia selalu ada buat gue. Nangkep gue kalau jatuh. Narik tangan gue kalau gue kebablasan. Jaring pengaman gue.”

“That’s more than enough, Indira.”

“But I want to feel butterflies in stomach, Nggiii. Rasa deg-degan. Rasa ragu menyerahkan hati karena takut dirusak, but you give it anyway. Because you just knew. Kayak elo berdua, Nggi.”, aku berhenti sejenak, “I want to have the smile. Your smile right now.”

Anggi langsung berhenti tersenyum. Dia menarik nafas panjang sebelum bicara, “Gini ya Indiraaa, sahabatku yang keras kepalaa. Butterflies in your stomach is overrated. Ga segitunya. Pada akhirnya, perempuan hanya butuh dicintai dan merasa aman. Realistically speaking.”

Aku terdiam mendengarkan kata-kata Anggi barusan. Sungguhkah?

“Ya ga tau deh.”, kataku dengan lirih. Dan bersiap melanjutkan memakan steakku yang mulai dingin.

Your ga-tau-deh is getting same-old, Indira. You have to face it.

****

Iyaaa, dasar Anggi cerewet. I have to face it, I know. Tapi untuk saat ini, aku harus mandi dulu supaya ga telat-telat amat sampai kantor.

 

 

 

 

One thought on “Indira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s