Indira (part 4 – end)

“I met a guy there. A cute one”, seruku tiba-tiba pada Anggi. Kami sedang berada di kafe langganannya. Hari selasa sore adalah giliran band David, calon suaminya, tampil sebagai homeband di kafe ini.

Anggi tersedak. “Oh yaaaa? Gimana ceritanyaa?”

Lalu aku menceritakan kisah pertemuanku dengan laki laki di Karimun Jawa kemarin pada Anggi. Keseluruhannya. Tatapan diam-diamnya. Caranya menggodaku. Anggi mendengarkan dengan seksama.

“Dan gue ngerasain, Nggi.”
“Apa?”, tanya Anggi.
“Ituuu.. buterflies in my stomach. Hundreds of them!”, kataku sambil cengar-cengir.

Anggi tertawa. “Feels good?”

Aku mengangguk, “feels very good”

Anggi lalu meminum cangkir kopinya. “Namanya siapa, dir?”

“Eengg.. ga tau.”

“Hah? Lo punya no teleponnya?”, tanya Anggi lagi.

Aku menggeleng.

“You met a cute guy who flirted with you and you have no idea who he was?”, lanjutnya lagi. Kali ini nadanya meninggi.

Aku menarik nafas panjang. “Kemarin pagi-pagi, seperti biasa Indra datang ke kantor gue. Ngajak nge-yamin biasa. Terus dia bilang, dia minta maaf udah maksa-maksa gue kemarin. Dia bilang, until I’m ready, he will keep his mouth shut”

Lalu aku terdiam. Menghela nafas. Anggi juga tudak bicara apa-apa, jadi aku melanjutkan. “Gue.. suka si laki-laki KarJaw ini, Nggi. I like the way he made me feel. Sensasinya. Kalo lo bisa begitu ga kuasa atas tubuh lo sendiri. Kalau lo bisa terbang begitu tinggi.”

Aku terdiam lagi. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku.

“Tapi?”, tanya Anggi.

Hihi, sahabatku ini emang paling ngerti aku. “Tapi..”, aku melanjutkan, ” setinggi apapun gue terbang, gue tau Indra adalah rumah gue untuk pulang.”

Lalu aku tersenyum. Hatiku terasa ringan sekarang.

Anggi menatapku lalu berkata, “eh, mungkin lo ga percaya, tapi you just have the smile. Right now.” , serunya.

Aku terkekeh mendengarnya. Anggi ikut-ikutan tertawa tapi lalu lanjut bertanya, “Yakin, Dir?”

Aku diam sejenak. Lalu mengangguk. “Lo tau ga, kebanyakan butterflies in stomach tuh bikin sakit perut!”, ujarku.

Lalu tawa kami berdua pecah.

3 thoughts on “Indira (part 4 – end)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s