Warna

Aku tidak tahu apa setiap orang melakukannya, tapi aku selalu mengaitkan seseorang dengan warna.

Misalnya, ibuku. Dia berwarna merah. Dia penuh semangat, tapi juga penuh amarah. Dendam. Dan dia pekerja keras. Dia selalu begitu sepanjang aku bisa mengingatnya. Mungkin dulu tidak begitu. Pasti dia begitu sejak ditinggal ayah.

Aku tidak pernah kenal ayahku. Dia pergi waktu aku baru berumur beberapa bulan. Kakakku mungkin lebih bisa mengingatnya. Dia sudah sekitar 6 tahun saat itu. Tapi aku yakin warnanya abu-abu. Anonim. Tidak bersuara. Tidak terang dan tidak gelap. Tapi bergerak tiba-tiba. Seperti saat dia tiba-tiba meninggalkan kami.

Nenekku, orang yang paling kusayangi di seluruh dunia, berwarna biru muda. Terang namun meneduhkan. Luas namun menjaga. Kalau di dekatnya aku merasa nyaman. Persis seperti perasaanku kalau melihat langit.

Kalau kakakku, dia berwarna ungu. Ungu gelap. Tidak semua orang tahu. Semua kira dia baik-baik saja. Tapi dia justru yang paling terluka. Dia menarik diri. Dia ada tapi tidak hadir. Fisiknya saja yang ada, pikirannya entah dimana. Warna ungunya sedikit menerang sejak ada Andri, pacarnya. Tapi tetap saja.

Karena itu aku tidak kaget saat menemukan jasadnya di kamar mandi yang penuh genangan darah dari nadi di tangannya. Aku tahu ini masalah waktu saja.

Aku sedih dan menangis. Orang pikir karena kakakku. Padahal bukan itu.

Beberapa minggu belakangan aku melihat warna kuning mulai bersinar dari dirinya. Itu warna suci. Warna belia. Dari calon anaknya.

Dia pikir aku tidak tahu. Padahal aku tahu.

2 thoughts on “Warna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s