Indira (part 4 -alternate story)

Jadi gue memutusken untuk melanjutkan cerita Si Indira. Hahaha, the perk of being a story teller, bisa ganti-ganti cerita seenak jidat (ditimpuk pembatja).

Jaddiii, ini lanjutan part 4nya ya!

[Part 1]    [Part 2]   [Part 3]   [Part 4-end]

Indira (Part 4)

Aku terbangun karena tiga ketukan pelan di pintu kamarku.

Ya ampun, sudah jam berapa ini? Apa sudah waktu pulang? Apa yang mengetuk Bapak tempatku homestay saat ini ngasih tau kalau sudah siang?

Aku tergopoh membuka pintu kamar. Dan mendapati.. si pemuda menyebalkan kemarin di balik pintuku. Shit. Aku refleks membetulkan rambutku. Aduh, pasti berantakan banget ni rambut singaku. Aduuuhhh…

Pemuda itu menatapku dengan mata tak percaya. Lalu dia berusaha menutupi tawanya dengan batuk-batuk kecil. Ya Tuhan, rasanya ingin menggelundung balik saja ke Jakarta. Permisiii…

“Sori, sori, tapi itu eengg”, serunya setelah ‘batuknya’ mereda. Dia lalu menunjuk mataku, dan melalukan gerakan menggaruk ujung matanya. Hah, belekan maksudnya? Akupun secara brutal mengucek mataku.
“Sama ehem, itu..” dia lalu menunjuk ujung bibirku. Iler??

Omagah! Aku langsung mengambil handuk (buat nutupin muka. Maluuu) lalu ngibrit ke kamar mandi. Langkahku ditemani gelegar tawanya. “10 menit ya! Kutunggu di bawah”, serunya di antara gelak berisiknya.

***

Aku turun ke halaman depan homestayku dalam waktu tepat 9 menit. Jam menunjukkan pukul 07.30. Kesal tapi sekaligus penasaran, sih. Mau apa lelaki itu sebenarnya.

Perbincangan di antara kawanan itu seketika berhenti saat melihat kedatanganku. Di sana ada seorang wanita dan tiga pria, termasuk lelaki menyebalkan (tapi lucu, hehe) itu.

Yang wanita langsung mendatangiku sembari tersenyum. Si lelaki menyebalkan mengikuti pelan dari belakang. “Haai, kenalin, aku Sastri. Itu Bimo dan Radit” tunjuknya pada dua laki-laki yang sedang duduk di atas motor. Ada tiga motor yang terparkir di halaman. Aku tebak, itu motor sewaan mereka.

Aku membalas senyumnya. “Hai, aku Indira”, jawabku sembari melambaikan tangan sekenanya.

Tahu-tahu tawa kawanan itu pecah, entah mengapa. Hanya lelaki menyebalkan yang diam, tapi terlihat salah tingkah. Apa perasaanku saja ya, tapi mukanya jadi memerah gitu.

“Kenapa ya?” tanyaku.
“Eh, maaf Indira. Hihi.. iniii, cowok culun ini kemarin ga berani kenalan sama kamu kaan. Jadi semalaman kami bikin tebak-tebakan nama kamu.”

Aku menatap Sastri dan si lelaki bergantian. Lelaki itu masih diam, tapi mukanya sudah seperti kepiting rebus. Dia melihat ke arah mana saja kecuali ke arahku. Hihi.. gayanya saja yang sok cool. Tapi ternyata…

“Oh ya? Jadi apa aja tebakan kalian?” Tanyaku sembari menahan geli.
“Ya, dari sebut-saja-Mawar sampai Madona”, timbrung Radit. Tawa mereka lalu pecah lagi.

Aku kembali menatap laki-laki itu. Kali ini, dia sedang memandang tanah. Lalu aku mengulurkan tanganku ke arahnya. “Kenalin, aku Indira. Indira Kemilau Putri”, ujarku.

Backsound tawa mendadak menghilang. Hening. Lelaki itu melongo. Tapi sejenak kemudian menyambut tanganku. “Awan. Ehem. Awan Parikesit”, balasnya.

Saat itu sesungguhnya dadaku bergemuruh tak karuan sampai aku khawatir semua orang dapat mendengarnya. Namun ternyata, dari yang dia ceritakan di kemudian hari, Awan mengaku saat itu detak jantungnyapun berdegup tak kalah kencangnya.

2 thoughts on “Indira (part 4 -alternate story)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s