What if Our Love Fades

Dalam hidup, setiap harinya manusia harus mengambil keputusan-keputusan kecil maupun besar tapi membutuhkan jawaban dengan cepat. Mulai dari yang sederhana seperti apakah kamu memilih untuk naik mobil atau motor saja pagi ini. Atau menu makan siang apa yang akan kau santap nanti. Hingga yang lebih kompleks seperti berapa detik waktu yang kau butuhkan untuk mengiyakan lamaran kekasihmu saat mengajakmu menikah.

Untuk wanita lain mungkin hanya butuh sepersekian detik. Itupun tanpa berpikir panjang si wanita akan mengiyakan. Tapi hal itu tidak berlaku padaku. Aku hanya termangu, beberapa detik, saat David melamarku. Sepertinya David juga terkejut dengan reaksiku. Apa sebenarnya yang dia harapkan? Bahwa aku akan melonjak-lonjak kegirangan? Dia tahu benar hal itu tidak mungkin, karena akukan baru selesai Operasi usus buntu 2 minggu yang lalu. Atau dia sedikit berharap aku menangis? Itupun harusnya dia tahu, kalau aku tak pernah menangis. Kecuali satu kali itu saat menonton film Hachiko bersamanya. Namun untuk hal di dunia nyata, aku pantang menangis.

Setelah beberapa detik yang panjang dan canggung, diapun memberanikan diri memanggil namaku. Tapi aku tak juga menjawabnya. Aku menatap calon cincinku. Berlian di cincinnya besar sekali. Aku tahu jumlah gaji david dan aku yakin dia pasti menyisihkan gajinya sedikit demi sedikit untuk membeli cincin ini. Jadi lamaran ini, cincin ini, fancy restaurant ini, pasti sudah dia rencanakan selama berbulan-bulan.

I could’ve just say yes. Aku mencintainya. Dia mencintaiku sedikit lebih banyak. Kami bahagia bersama dan semua kerabat menyetujui hubungan kami. Tapi pernikahan itu artinya hidup bersama selamanya. Dan selamanya itu sangat lama. Selamanya itu lama yang tidak berbatas. Apa sampai selamanya itu cinta kami akan sama kadarnya?

Pasti karena horoskopku Libra, jadi aku penuh keragu-raguan seperti ini. Tapi ah, siapa yang kubohongi? Manusia memang gemar mencari-cari pembenaran dalam segala sesuatu dalam hidup, termasuk melemparkan keburukan sifat dalam dirinya kepada konstelasi bintang sehingga ia tidak salah-salah amat.

Kau pasti membatin kalau aku berlebihan? Tapi aku tahu satu contoh nyata. Ayah dan ibuku. Aku yakin mereka dulunya saling mencinta. Itu terlihat dalam setiap senyuman mereka di foto-foto lama yang tersimpan di album perjalanan mereka. Mereka juga saling berpelukan di foto itu. Aku juga masih ingat samar-samar kalau ayahku suka mengelus rambut ibuku saat ibu memasak di dapur. Atau curi-curi mencium kening ibuku saat kami menonton TV.

Lalu waktu berlalu. 5 tahun. 10 tahun. Dan semuanya menjadi hambar. Mereka mulai took thing for granted. Masing-masing menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Ayah dengan burung-burung peliharaannya. Ibu dengan kami, ketiga anaknya. Keberadaan satu sama lain jadi tidak berarti. Lalu mereka mulai meributkan hal-hal remeh. Hal-hal yang tiga hari kemudianpun kau tak ingat lagi apa. Tapi hal-hal remeh ini mendadak jadi besar dan penting untuk diperdebatkan.

Dan mereka berhenti saling mencintai.

Tidak, mereka tidak berpisah. Mungkin alasannya kami? Tapi bukankah hidup bersama dengan orang yang tidak kau cintai justru lebih menyakitkan daripada bercerai itu sendiri?

Sekarang, kau bilang padaku, apakah kekhawatiranku saat  ini berlebihan? Apa yang harus kujawab, karena david menungguku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s