Indira (part 5) – repost

Di sinilah aku sekarang, duduk di boncengan motor Awan, menjelajahi bagian Pulau Karimun Jawa yang tidak ramai turis. Bau laut yang amis mengiringi sepanjang perjalanan kami. Awan menjanjikan membawa kami ke tempat ‘yang hanya penduduk lokal yang tau’. Siapa yang tidak tergiur?

Tiba-tiba motor kami menepi di puncak perbukitan. Motor Radit dan Bimo ikut berhenti di belakang kami. Awan menunjuk hamparan pasir dan laut yang membentang di kejauhan dan terlihat dari puncak perbukitan ini. Indah sekali.

“Foto-foto gih sana!”, ujar Awan, yang sebenarnya tidak berguna karena ketiga kawannya sudah sibuk dengan kameranya masing-masing.

Aku bergeming memandang pemandangan di sekitarku. Maklumlah, aku kan sudah 3 tahun hidup di hutan beton, jadi melihat warna hijau bertabrakan dengan warna biru seperti ini, hatiku sungguh melonjak.

Awan melirikku, “Ga mau foto-foto? Difoto?”

Aku menggeleng. “Ga usah.”, jawabku singkat. My brain would remember every details of it. And I shall draw it later.

Awan kembali menatapku tajam. Kali ini aku memberanikan menatapnya balik. Kulit Awan coklat. Bibirnya penuh dan dagunya terbelah. Tapi dari keseluruhan wajahnya, mata hitamnya yang tajam memang yang paling menarik perhatian dan dibingkai sempurna oleh alis mata yang tebal. Oh, dan aku baru menyadari di bagian alis mata sebelah kanannya terdapat bekas jahitan sehingga membelah ujung alisnya.

“Oi, jangan lama-lama. Indira siang ini pulang.”, teriaknya pada ketiga kawannya.

Dan kenapa jantungku berhenti berdegup saat dia menyebut namaku?

“Kita mau kemana sih, Wan?”

Dia menatapku sebentar sebelum menjawab, “tunggu aja ya!”

Lalu dia tersenyum.

 

****

Kami tiba di sebuah danau yang sepi pengunjung, hanya ada kami di sini. Danau itu berwarna kehijauan. Sungguh sayang danau ini begini sepi, padahal dia sangat cantik. Untuk mencapai bagian tengah danau kita bisa menggunakan jembatan kayu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sastri membuka bekal yang tadi kami beli di warung di alun-alun kota. Katanya warung itu menawarkan hidangan laut tersegar dan terenak di seantero Karimun Jawa.

Tapi aku sedang tidak terlalu lapar, jadi aku mengeluarkan buku gambarku dan pensil warna yang kubawa di tas. Mulai mengguratkan pemandangan di depanku. Sederhana saja. Tapi kadang orang terlalu jauh mencari, padahal jawaban seringnya sederhana.

“Itu gambarmu?”, seru Awan. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Dia harus belajar berhenti mengagetkanku begini. Aku memasang tampang terganggu namun tetap mengangguk.

“Tapi kamu bilang gambarmu biasa. Kataku bagus. Dan aku bukan orang yang suka memuji.”, bisiknya.

Aku dapat merasakan wajahku merona merah. “Terimakasih, Awan”, kataku akhirnya.

Dia mengangguk.

“Aku harus balik nih. Kapalku berangkat jam 11.”

Dia melirik jamnya. “Oke, aku antar”

 

****

Kami berdiri di depan perahu yang akan membawaku kembali ke daratan Jawa. Kepada kenyataan. “Makasih ya Wan. Salam buat anak-anak”

Awan mengangguk tapi sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya. Mulutnya membuka, lalu diurungkannya, lalu dia menggaruk bekas jahitan di alis kanannya. Lalu dia menarik nafas hendak bicara, tapi tidak jadi lagi.

Aku menatap tingkahnya dengan geli, dua kali sudah hari ini aku melihat orang ini salah tingkah.

“Apa Waaan?”, tanyaku akhirnya sambil berusaha menyembunyikan tawaku.

“Ehem..”, dia membasahi tenggorokannya (yang aku yakin tidak kering sih), “Aku..”, dia berhenti lagi, kali ini menggaruk bekas luka di alisnya. “Aku masih pengen kenal kamu lebih jauh, Indira. Boleh?”, serunya akhirnya menuntaskan kalimatnya. Lalu pipinya memerah.

Aku cukup terkejut mendengar pilihan kalimatnya. Polos sekali ya? Hihi..

Seorang petugas kapal menepuk pundakku, “mbak, mau masuk ga? udah mau jalan.”, katanya.

Aku menatap Awan. Give him a chance? No?

Awan terlihat kikuk sembari terus menggaruk alisnya. Aku tersenyum.

“0813864705”, jawabku sambil berlari ke arah kapal.

“Hah? Apa?”, teriaknya.

“Nomer hpku. 0813864705.”, seruku lagi, sengaja mempercepat bagian aku menyebutkan no handphoneku. Aku kemudian menaiki jembata kayu menuju kapal.

“Aku lagi ga bawa handphone Indiraa!”, serunya dengan muka putus asa. Dia terlihat gelagapan mencari sesuatu di kantong celananya.

“Sampai jumpa Awaan!”, jawabku sambil tertawa di geladak kapal yang berlayar menjauh.

Sampai jumpa Awan. If it’s meant to be then it’s meant to be, no?

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s