(Un)lucky Day

Do you believe that nice and steady morning leads to a nice and steady day? I do. It’s my jinx.

Bangun pagi, BAB lancar, bra dan celana dalam yang matching, radio randomly playing my favorite song, jalanan yang cukup bersahabat; voila and I believe that it’s gonna be an okay day. Karena itu aku selalu berusaha membuat pagiku seteratur mungkin karena dia menentukan mood dan kadang keberuntunganku seharian.

Sayangnya, ini berlaku juga kebalikannya. A bad start makes the day fall apart. Messy morning will make the whole day goes wrong. 

And it couldn’t get any messier than this morning.

Aku menatap kaca di toilet kantorku lekat-lekat.

AKU

LUPA 

PAKE

ALIS!!

How in God Sake I forgot to draw my brow!! 

Ini gara-gara semalaman bergadang mengerjakan final presentation project yang sudah aku handle dua bulan belakangan ini, yang pagi ini jam 9 harus kupresentasikan di depan klien di kantornya. Dan sekarang sudah jam 8.40. Bagaimana caranya aku menembus kemacetan sudirman dalam 15 menit? Oh Pak Irwan is so gonna hang me. Walaupun ini salah dia juga, siapa suruh flash disk miliknya bervirus sehingga file yang sudah susah payah kukerjakan semalaman jadi hilang. Membuatku harus ngebut mengerjakannya lagi dalam waktu kurang dari dua jam. Should I put that on my KPI justification: making final presentation within 2 frikkin hour? And I need to be in the car in two minutes if i still want to be employed next month. So alis is at the least of my worry now.

Oh no, it couldn’t get any messier than this morning.

****

Mr. Meyer, sang VP Eksplorasi dari Texinc Oil Company -perusahaan klienku-, mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya. Alisnya mengernyit  menandakan dia berpikir keras. Well okay, this is the longest 30 seconds in my presentation life.

“Okay,” dia akhirnya berkata. Tanpa sadar aku menahan nafas. Kulihat Pak Irwanpun menunggu dengan tegang. ” I think you deliver the notes from our latest meeting well, Sarah. Your team has succesfully fix the bugs. I have no other comment”, lanjutnya.

“Well, I guess that seal the deal, Irwan”, serunya lagi. 

Senyum selebar kawah tangkuban perahu merekah di muka Pak Irwan. Hmm, ingatkan aku untuk meminta bonus ASAP ya, sebelum senyumnya hilang.

“I guess it does. Thank you, John!”, jawabnya sembari menjabat tangan Mr. Meyer.

“But since it’s a new software, I think we still need your team assistance in running it and introduce the system for us. We still have a month left in the contract afterall, right?”

“That would be no problem, John. Sarah will always available, just give her a call.”

“Okay then Sarah, on our team the leader for this project is Randy. He’s just got transferred to Jakarta office. Please contact Randy for next meeting arrangement.”

Mr Meyer menunjuk seorang laki-laki di sebelahnya, yang oh wow..

Ehem. 

Nevermind. 

Just the cutest man i’ve met in the last 22 months. Iya, itu adalah lamanya aku jomblo. Eh, single, maaf.

Aku mulai meracau. Waktunya beres-beres.

“Halo”, sebuah suara dalam menyapaku yang sedang menggulung kabel laptopku. Aku mengangkat kepala. “Saya Randy”, katanya sembari menjulurkan tangannya dan tersenyum memamerkan deretan gigi rapihnya. “Sarah”, ujarku sembari membalas jabatan tangannya. 

Ruang meeting hampir kosong, dan Pak Irwan sudah memberi kode bahwa dia menunggu di luar. “Eh sorry, itu..”, dia menunjuk alisku. Shit, he notices it? 

“Hehe, iya ada semacam force majeur tadi pagi jadi lupa gambar alis. Haha..”

Dan Randy hanya menatapku bingung.  “Maksud saya, ada bekas spidol di dekat matamu. Mungkin tadi pas kamu pegang spidol waktu presentasi kena ke sana ya?”

Hening. 

Dan Aku merasa ingin mencari lubang galian PLN terdekat lalu nyemplung ke sana sampai bulan depan.

“Oh, he he. okay, this is awkward. And embarassing.” Aku bisa merasakan mukaku memanas.

Untungnya Randy hanya tertawa dan menyerahkan selembar tissue padaku. 

Should talk about something. 

“Sebelumnya dari mana, Pak? Apa dari field?”, ujarku sambil membersihkan mataku dengan tissue sekenanya.

Dia mengangkat alis, “Randy aja lah, jadi berasa tua saya, hehe..”

Another smile and I’m going to have a heart attack, mr. Nice-eyes-nice-smile-kemeja-digulung-setengah!

“Sebelumnya dari KL. Baru 2 minggu lah di sini.”, lanjutnya “jadi Sarah, gimana kalau introduction softwarenya dimulai senin depan selama seminggu. Tim saya jumlahnya 6 orang. Prefer di kantor kamu karena kalau di sini pasti terganggu kerjaan. Half day saja kalau bisa.”

Hmm, bossy. I like that. Aku mengangguk. “Ga masalah Randy, senin depan it is.”

“Dan mungkin, a little coffee afterward?”

Uhuk. Is it what I think it is?

“Eh, maaf kalau kurang sopan, mencampur adukkan kerjaan dan personal interest.”, sambungnya terlihat sedikit malu.

Hmm, bossy and to the point. Aku tersenyum. “I prefer lunch than coffee sih” jawabku sembari menyerahkan kartu namaku. “Should you need anything work or private related, please contact here, ya.”

Randy tertawa kecil. “I will.”

Jadi siapa yang tadi bilang bad morning leads to bad day? I’ve just nailed half million usd project presentation and a cute guy tell me I’m his personal interest. Me, without the eyebrow! The day couldn’t get any better.

So universe, eat that! Your jinx jinx no more! I wiiii..

Pletak!

“OUCH!!!”

And there goes my heel (and ankle).

6 thoughts on “(Un)lucky Day

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s