“Lebih Sayang Siapa?”

Dalam suatu sesi perpelukan menjelang tidur, Kinanti tiba-tiba bertanya: ibu lebih sayang adek, atau aku?

Ibu langsung nderegdeg. Kenapa Kinanti sampai nanya begitu? Apa dia merasa ada yang lebih diistimewakan? Padahal selama ini kami (merasa) sudah seadil mungkin..

“Kok Kinan nanya gitu? Emang menurut Kinan gimana?”

“Ga tau,” jawabnya sambil menggeleng.

Ibu terdiam.

“Enngg, kalau Kinan, lebih sayang ibu atau ayah?”

“Ga tau,” jawabnya lagi..

” Susah kan jawabnya? Ibu juga ga bisa jawab kalau ditanya begitu.”

“Tapiii,” lanjut ibu, “kalau ibu dan ayah terlihat lebih memperhatikan adek, itu karena adek masih kecil. Belum bisa apa-apa. Ibu takut ade jatuh. Atau adek makan mainan. Karena ade belum ngerti.”

Kinan tertawa..

“Kalau Kinan, sudah pintar. Sudah bisa jaga diri. Ibu dan ayah percaya sama Kinan. 

“Jadi kalau sayangnya sama besar, bentuknya saja beda. Cara menunjukkannya beda.”

Kinan mengangguk. 

And I could feel her smile.

“Oke Kinan?”

“Oke ibu…”

Aku ga tau, jawaban itu benar atau salah, but that was the most honest answer I could think of in a split second.

And I hope her mind (and heart) understood.

Iklan

2 thoughts on ““Lebih Sayang Siapa?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s