Even if you don’t feel it anymore..

Do you have to shout it to my face?

Don’t you think it’s better to keep it for yourself?

Why do you have to tell me? 

To hurt me?

How do you feel after telling me?

Relieved? Satisfied? Victory?

Thank you for breaking my heart.

All over again.

Iklan

(Un)lucky Day

Do you believe that nice and steady morning leads to a nice and steady day? I do. It’s my jinx.

Bangun pagi, BAB lancar, bra dan celana dalam yang matching, radio randomly playing my favorite song, jalanan yang cukup bersahabat; voila and I believe that it’s gonna be an okay day. Karena itu aku selalu berusaha membuat pagiku seteratur mungkin karena dia menentukan mood dan kadang keberuntunganku seharian.

Sayangnya, ini berlaku juga kebalikannya. A bad start makes the day fall apart. Messy morning will make the whole day goes wrong. 

And it couldn’t get any messier than this morning.

Aku menatap kaca di toilet kantorku lekat-lekat.

AKU

LUPA 

PAKE

ALIS!!

How in God Sake I forgot to draw my brow!! 

Ini gara-gara semalaman bergadang mengerjakan final presentation project yang sudah aku handle dua bulan belakangan ini, yang pagi ini jam 9 harus kupresentasikan di depan klien di kantornya. Dan sekarang sudah jam 8.40. Bagaimana caranya aku menembus kemacetan sudirman dalam 15 menit? Oh Pak Irwan is so gonna hang me. Walaupun ini salah dia juga, siapa suruh flash disk miliknya bervirus sehingga file yang sudah susah payah kukerjakan semalaman jadi hilang. Membuatku harus ngebut mengerjakannya lagi dalam waktu kurang dari dua jam. Should I put that on my KPI justification: making final presentation within 2 frikkin hour? And I need to be in the car in two minutes if i still want to be employed next month. So alis is at the least of my worry now.

Oh no, it couldn’t get any messier than this morning.

****

Mr. Meyer, sang VP Eksplorasi dari Texinc Oil Company -perusahaan klienku-, mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya. Alisnya mengernyit  menandakan dia berpikir keras. Well okay, this is the longest 30 seconds in my presentation life.

“Okay,” dia akhirnya berkata. Tanpa sadar aku menahan nafas. Kulihat Pak Irwanpun menunggu dengan tegang. ” I think you deliver the notes from our latest meeting well, Sarah. Your team has succesfully fix the bugs. I have no other comment”, lanjutnya.

“Well, I guess that seal the deal, Irwan”, serunya lagi. 

Senyum selebar kawah tangkuban perahu merekah di muka Pak Irwan. Hmm, ingatkan aku untuk meminta bonus ASAP ya, sebelum senyumnya hilang.

“I guess it does. Thank you, John!”, jawabnya sembari menjabat tangan Mr. Meyer.

“But since it’s a new software, I think we still need your team assistance in running it and introduce the system for us. We still have a month left in the contract afterall, right?”

“That would be no problem, John. Sarah will always available, just give her a call.”

“Okay then Sarah, on our team the leader for this project is Randy. He’s just got transferred to Jakarta office. Please contact Randy for next meeting arrangement.”

Mr Meyer menunjuk seorang laki-laki di sebelahnya, yang oh wow..

Ehem. 

Nevermind. 

Just the cutest man i’ve met in the last 22 months. Iya, itu adalah lamanya aku jomblo. Eh, single, maaf.

Aku mulai meracau. Waktunya beres-beres.

“Halo”, sebuah suara dalam menyapaku yang sedang menggulung kabel laptopku. Aku mengangkat kepala. “Saya Randy”, katanya sembari menjulurkan tangannya dan tersenyum memamerkan deretan gigi rapihnya. “Sarah”, ujarku sembari membalas jabatan tangannya. 

Ruang meeting hampir kosong, dan Pak Irwan sudah memberi kode bahwa dia menunggu di luar. “Eh sorry, itu..”, dia menunjuk alisku. Shit, he notices it? 

“Hehe, iya ada semacam force majeur tadi pagi jadi lupa gambar alis. Haha..”

Dan Randy hanya menatapku bingung.  “Maksud saya, ada bekas spidol di dekat matamu. Mungkin tadi pas kamu pegang spidol waktu presentasi kena ke sana ya?”

Hening. 

Dan Aku merasa ingin mencari lubang galian PLN terdekat lalu nyemplung ke sana sampai bulan depan.

“Oh, he he. okay, this is awkward. And embarassing.” Aku bisa merasakan mukaku memanas.

Untungnya Randy hanya tertawa dan menyerahkan selembar tissue padaku. 

Should talk about something. 

“Sebelumnya dari mana, Pak? Apa dari field?”, ujarku sambil membersihkan mataku dengan tissue sekenanya.

Dia mengangkat alis, “Randy aja lah, jadi berasa tua saya, hehe..”

Another smile and I’m going to have a heart attack, mr. Nice-eyes-nice-smile-kemeja-digulung-setengah!

“Sebelumnya dari KL. Baru 2 minggu lah di sini.”, lanjutnya “jadi Sarah, gimana kalau introduction softwarenya dimulai senin depan selama seminggu. Tim saya jumlahnya 6 orang. Prefer di kantor kamu karena kalau di sini pasti terganggu kerjaan. Half day saja kalau bisa.”

Hmm, bossy. I like that. Aku mengangguk. “Ga masalah Randy, senin depan it is.”

“Dan mungkin, a little coffee afterward?”

Uhuk. Is it what I think it is?

“Eh, maaf kalau kurang sopan, mencampur adukkan kerjaan dan personal interest.”, sambungnya terlihat sedikit malu.

Hmm, bossy and to the point. Aku tersenyum. “I prefer lunch than coffee sih” jawabku sembari menyerahkan kartu namaku. “Should you need anything work or private related, please contact here, ya.”

Randy tertawa kecil. “I will.”

Jadi siapa yang tadi bilang bad morning leads to bad day? I’ve just nailed half million usd project presentation and a cute guy tell me I’m his personal interest. Me, without the eyebrow! The day couldn’t get any better.

So universe, eat that! Your jinx jinx no more! I wiiii..

Pletak!

“OUCH!!!”

And there goes my heel (and ankle).

Indira (part 5) – repost

Di sinilah aku sekarang, duduk di boncengan motor Awan, menjelajahi bagian Pulau Karimun Jawa yang tidak ramai turis. Bau laut yang amis mengiringi sepanjang perjalanan kami. Awan menjanjikan membawa kami ke tempat ‘yang hanya penduduk lokal yang tau’. Siapa yang tidak tergiur?

Tiba-tiba motor kami menepi di puncak perbukitan. Motor Radit dan Bimo ikut berhenti di belakang kami. Awan menunjuk hamparan pasir dan laut yang membentang di kejauhan dan terlihat dari puncak perbukitan ini. Indah sekali.

“Foto-foto gih sana!”, ujar Awan, yang sebenarnya tidak berguna karena ketiga kawannya sudah sibuk dengan kameranya masing-masing.

Aku bergeming memandang pemandangan di sekitarku. Maklumlah, aku kan sudah 3 tahun hidup di hutan beton, jadi melihat warna hijau bertabrakan dengan warna biru seperti ini, hatiku sungguh melonjak.

Awan melirikku, “Ga mau foto-foto? Difoto?”

Aku menggeleng. “Ga usah.”, jawabku singkat. My brain would remember every details of it. And I shall draw it later.

Awan kembali menatapku tajam. Kali ini aku memberanikan menatapnya balik. Kulit Awan coklat. Bibirnya penuh dan dagunya terbelah. Tapi dari keseluruhan wajahnya, mata hitamnya yang tajam memang yang paling menarik perhatian dan dibingkai sempurna oleh alis mata yang tebal. Oh, dan aku baru menyadari di bagian alis mata sebelah kanannya terdapat bekas jahitan sehingga membelah ujung alisnya.

“Oi, jangan lama-lama. Indira siang ini pulang.”, teriaknya pada ketiga kawannya.

Dan kenapa jantungku berhenti berdegup saat dia menyebut namaku?

“Kita mau kemana sih, Wan?”

Dia menatapku sebentar sebelum menjawab, “tunggu aja ya!”

Lalu dia tersenyum.

 

****

Kami tiba di sebuah danau yang sepi pengunjung, hanya ada kami di sini. Danau itu berwarna kehijauan. Sungguh sayang danau ini begini sepi, padahal dia sangat cantik. Untuk mencapai bagian tengah danau kita bisa menggunakan jembatan kayu. Kami menghabiskan waktu cukup lama di sini. Sastri membuka bekal yang tadi kami beli di warung di alun-alun kota. Katanya warung itu menawarkan hidangan laut tersegar dan terenak di seantero Karimun Jawa.

Tapi aku sedang tidak terlalu lapar, jadi aku mengeluarkan buku gambarku dan pensil warna yang kubawa di tas. Mulai mengguratkan pemandangan di depanku. Sederhana saja. Tapi kadang orang terlalu jauh mencari, padahal jawaban seringnya sederhana.

“Itu gambarmu?”, seru Awan. Ternyata dia sudah duduk di sampingku. Dia harus belajar berhenti mengagetkanku begini. Aku memasang tampang terganggu namun tetap mengangguk.

“Tapi kamu bilang gambarmu biasa. Kataku bagus. Dan aku bukan orang yang suka memuji.”, bisiknya.

Aku dapat merasakan wajahku merona merah. “Terimakasih, Awan”, kataku akhirnya.

Dia mengangguk.

“Aku harus balik nih. Kapalku berangkat jam 11.”

Dia melirik jamnya. “Oke, aku antar”

 

****

Kami berdiri di depan perahu yang akan membawaku kembali ke daratan Jawa. Kepada kenyataan. “Makasih ya Wan. Salam buat anak-anak”

Awan mengangguk tapi sepertinya masih ada yang ingin disampaikannya. Mulutnya membuka, lalu diurungkannya, lalu dia menggaruk bekas jahitan di alis kanannya. Lalu dia menarik nafas hendak bicara, tapi tidak jadi lagi.

Aku menatap tingkahnya dengan geli, dua kali sudah hari ini aku melihat orang ini salah tingkah.

“Apa Waaan?”, tanyaku akhirnya sambil berusaha menyembunyikan tawaku.

“Ehem..”, dia membasahi tenggorokannya (yang aku yakin tidak kering sih), “Aku..”, dia berhenti lagi, kali ini menggaruk bekas luka di alisnya. “Aku masih pengen kenal kamu lebih jauh, Indira. Boleh?”, serunya akhirnya menuntaskan kalimatnya. Lalu pipinya memerah.

Aku cukup terkejut mendengar pilihan kalimatnya. Polos sekali ya? Hihi..

Seorang petugas kapal menepuk pundakku, “mbak, mau masuk ga? udah mau jalan.”, katanya.

Aku menatap Awan. Give him a chance? No?

Awan terlihat kikuk sembari terus menggaruk alisnya. Aku tersenyum.

“0813864705”, jawabku sambil berlari ke arah kapal.

“Hah? Apa?”, teriaknya.

“Nomer hpku. 0813864705.”, seruku lagi, sengaja mempercepat bagian aku menyebutkan no handphoneku. Aku kemudian menaiki jembata kayu menuju kapal.

“Aku lagi ga bawa handphone Indiraa!”, serunya dengan muka putus asa. Dia terlihat gelagapan mencari sesuatu di kantong celananya.

“Sampai jumpa Awaan!”, jawabku sambil tertawa di geladak kapal yang berlayar menjauh.

Sampai jumpa Awan. If it’s meant to be then it’s meant to be, no?

 

Thin Red Line

There is this thin red line between loving you and the urge to throw a glass to your head.

You, whose nose wrinkle everytime my friedrice (my one and only dish I can make you) gets too salty.
You, who always kiss me gently every single night before we go to sleep
You, who always pick the opposite football team to my favorite team. We know you are not into football. You just need to tease me.
You, who get tired of my constant whining about why we can’t get a bigger house, why do our car keeps breaking down everytime we use it. It’s funny at first. But it’s tiring after some time, you know?
You, who stop talking, asking, and kissing.

There is this thin red line between loving me and hating me, you say. And then you left.

One (Lost) Shot

Keringat gua mengucur deras. Tangan basah. Lidah kelu. Tapi untung ga sampe pipis di celana. Eh, gak kan? Sebentar, periksa dulu. Ehem, lanjut. Bukan, gua bukan abis nonton rapat DPR sehingga jadi mual. Gua justru sedang menatap gadis cantik yang sudah seminggu belakangan mengisi mimpi gua.

Kenalan? Gak? Kenalan? Enggak! Kenalan, cupu!

Arrghh!!

Rewind ke beberapa hari ke belakang, pagi itu gua bangun dengan perasaan gamang, karena Song Hye Kyo baru tau dia dikhianati ‘kakak’ kesayangannya. Eh, rewindnya kebanyakan. Fast forward dikit. Pagi itu gua gelantungan di busway sembari ngantuk banget karena nonton drama korea sampe jam dua malam. Tapi ngantuk gua langsung hilang begitu gadis ini masuk. Kalau di iklan-iklan, ini bagian si gadis berjalan dengan rambut panjang tertepa angin, dengan background beberapa laki-laki melongo memandanginya. Tapi bedanya ga ada angin. Dan si gadis ga make dress merah seksi. Dan laki-laki yang memandangi dengan tampang bodoh cuma gua. Kalau ibaratnya dia medan magnet, gua adalah serpihan besi yang tertarik ke arahnya tanpa bisa melawan. Larut dalam pesonanya. Asli, cewe tercantik yang pernah gue liat! Setelah nyokap gua tentu, karena gue belum mau dikutuk jadi batu. Si gadis berdiri di sebelah gua dan gua yakin debaran jantung gua kedengeran sama dia. Iya, sekencang itu.

Malam itu gua menghabiskan waktu mikirin dia, mengingat caranya mendorong kacamata yang melorot dari pangkal hidungnya. Mendengar tawa renyah kecilnya saat membaca novel yang dia bawa (undomestic goddess. Harus cari weekend ini. Eh lupa, sejak kapan gua baca chicklit?). Sembari curi-curi lirik waktu dia membalas pesan-pesan di handphone dari temannya (antara naksir sama kepo beda tipis).

Besoknya gua bersumpah pada palapa bahwa kalau ketemu lagi, gua akan ajak dia kenalan. Rupanya palapa tidak menghendaki persatuan antar dua sejoli, karena gua ga ketemu dia. Dan juga besoknya. Dan besoknya..

Saat semangat gua mulai surut, justru gue kembali satu busway sama dia. Tapi bahkan Ian Kasella tidak akan mampu melagukan pedih hati gua karena jarak kami terpisah sangat jauh. Dia di bagian depan busway dan gua jauh di belakang. Curi-curi pandang pun susah. Walhasil gua hanya bisa melihat punggungnya melangkah menjauh di halte tempat dia turun.

Hari ini, gue dapat ide. Gua bakal bangun pagi-pagi, naik busway dan turun di halte tempat dia naik, tunggu dia datang, dan saat dia datang, naik busway yang sama dan berdiri deketan. Brilian! Gua hampir ga percaya otak gua bisa secemerlang ini.

Rencana berjalan lancar. Dan di sinilah kami sekarang, dia duduk dan gua berdiri tepat di hadapannya. Gua, dengan kemeja terbaik yang gua punya, yang sering dibilang ganteng kalau pake kemeja ini. Yang bilang ganteng memang nyokap gua doang sih. Anywaaaayyy…

Otak gua memutar kata-kata ngajak kenalan yang memungkinkan.
Halo, saya dapat penglihatan kalau jakarta besok banjir, dan untuk mencegahnya, saya harus berkenalan dengan wanita pertama yang saya temui pagi ini. Kebetulan adalah anda! Ah, terlalu Ki Joko Bodo.
Hai, gua Riyan. Gua udah berapa hari ini merhatiin elo. Hehehe… ga sadar ya kita udah 3 kali loh sebusway! Kamu naik dari halte buncit dan turun di kuningan timur, kan Hehehehe… krikk krikkk eh, jangkrik itu backsound doang kok. Kriiiikk.. kriiiiiiiiiikkkkkk…

Gua memandang si gadis yang sedang menekuni bacaannya. Cantik banget, mbaknyaa, subhanallah. Oke, it’s now or never!

Tapi.. kenalan? Gak? Kenalan!

Tarik napas..

Ehh kok mbaknya tiba-tiba mengangkat wajahnya. Dan, tersenyum! Ke arah gua! Kali ini gua yakin, soalnya gua pun sempet liat-liat ke belakang takut gua ke gr an. Ya Allah, memang rejeki anak soleh. Jangan-jangan mbaknya juga memiliki perasaan yang sama dengan gua.

Lalu dia berdiri sehingga kami sekarang berhadapan. Asli, deg-deg annya ngalahin waktu ketauan cabut sekolah sama Pak Yohanes, si guru killer. Aroma tubuhnya mengisi rongga dada gua. Gua memberanikan diri untuk membuka mulut,
“Ha..”, maksudnya mau ngomong hai tapi dia malah melengos melewati gua yang masih menatapnya dengan mulut setengah terbuka.

Ternyata sudah sampai halte tujuannya. Dan dia bergegas turun tergesa bersama penumpang lain. Kaki gua lemas. Mata gua panas.

Yah, semoga lebih beruntung lain kali.

*****

Tapi rupanya tidak ada lain kali. Kabar buruknya, hari itu adalah hari terakhir gua bertemu si gadis.

Repost Short Story.. mihihi

Ini cerita kopi paste edit sikit dari blog jadul.. pas dibaca kok masih koheren sama masa kini.. gemess.. hahaha…jadi jadi, pajang pajang duluu

“Dri.. Kayaknya aku gendutan deh..”, ucap Mira tiba-tiba.

Andri melirik pacarnya sekilas dengan ujung mata.”Oh..”, serunya sambil tetap berkonsentrasi pada game di layar komputernya.

“Loh, kok cuma ‘oh’ siiii…”, jawab Mira. Kali ini pita suaranya sudah naik setengah oktaf.

“Tunggu dulu Mir. Itu pernyataan atau pertanyaan?” Jawab Andri lagi sekenanya.

Mira merenggut, “Yaaa, tapi komentarin dooonnnnggg!!”

Lah, yang tadi? Oke.. berarti ini serius, pikir Andri. Dia mempause game nya-yang dia lakukan setengah hati karena timnya sedang diserang habis-habisan- dan memincingkan matanya sok serius lalu berkata, “Enggak kok kayaknya.”, jawabnya kalem.

Mata Mira lalu membelalak. Dia menutup majalah yang sedari tadi dibacanya dan membuangnya ke lantai. Andri sempat membaca judul artikel nya sekilas. Judulnya, Goodbye Fat Look!! Damn, ternyata gara-gara itu.”Enggak gimana?”, suara naik 1 oktaf lagi. Mute! Mute! Mute!
Celana ini aja jadi susah banget dipakenya. Liat deh, jadi ketat banget gini. Biasanya kan longgar. Aku tuh akhir-akhir ini makan mulu kerjaannya. Liat dong pipiku!! Gendutan kan? Ya kan?”, ujar Mira meminta persetujuan.Gawat! Tricky question. Yes or no????
“Emm.. Iya si..”

“Tuh kaaannnn!!! Kamu jadi pacar gimana si? Gak suportif amat!”

Wrong answer!! “Oke.. Oke aku nyerah Mir. Kamu sebenernya pengen dibilang gendut apa enggak si?”

What if Our Love Fades

Dalam hidup, setiap harinya manusia harus mengambil keputusan-keputusan kecil maupun besar tapi membutuhkan jawaban dengan cepat. Mulai dari yang sederhana seperti apakah kamu memilih untuk naik mobil atau motor saja pagi ini. Atau menu makan siang apa yang akan kau santap nanti. Hingga yang lebih kompleks seperti berapa detik waktu yang kau butuhkan untuk mengiyakan lamaran kekasihmu saat mengajakmu menikah.

Untuk wanita lain mungkin hanya butuh sepersekian detik. Itupun tanpa berpikir panjang si wanita akan mengiyakan. Tapi hal itu tidak berlaku padaku. Aku hanya termangu, beberapa detik, saat David melamarku. Sepertinya David juga terkejut dengan reaksiku. Apa sebenarnya yang dia harapkan? Bahwa aku akan melonjak-lonjak kegirangan? Dia tahu benar hal itu tidak mungkin, karena akukan baru selesai Operasi usus buntu 2 minggu yang lalu. Atau dia sedikit berharap aku menangis? Itupun harusnya dia tahu, kalau aku tak pernah menangis. Kecuali satu kali itu saat menonton film Hachiko bersamanya. Namun untuk hal di dunia nyata, aku pantang menangis.

Setelah beberapa detik yang panjang dan canggung, diapun memberanikan diri memanggil namaku. Tapi aku tak juga menjawabnya. Aku menatap calon cincinku. Berlian di cincinnya besar sekali. Aku tahu jumlah gaji david dan aku yakin dia pasti menyisihkan gajinya sedikit demi sedikit untuk membeli cincin ini. Jadi lamaran ini, cincin ini, fancy restaurant ini, pasti sudah dia rencanakan selama berbulan-bulan.

I could’ve just say yes. Aku mencintainya. Dia mencintaiku sedikit lebih banyak. Kami bahagia bersama dan semua kerabat menyetujui hubungan kami. Tapi pernikahan itu artinya hidup bersama selamanya. Dan selamanya itu sangat lama. Selamanya itu lama yang tidak berbatas. Apa sampai selamanya itu cinta kami akan sama kadarnya?

Pasti karena horoskopku Libra, jadi aku penuh keragu-raguan seperti ini. Tapi ah, siapa yang kubohongi? Manusia memang gemar mencari-cari pembenaran dalam segala sesuatu dalam hidup, termasuk melemparkan keburukan sifat dalam dirinya kepada konstelasi bintang sehingga ia tidak salah-salah amat.

Kau pasti membatin kalau aku berlebihan? Tapi aku tahu satu contoh nyata. Ayah dan ibuku. Aku yakin mereka dulunya saling mencinta. Itu terlihat dalam setiap senyuman mereka di foto-foto lama yang tersimpan di album perjalanan mereka. Mereka juga saling berpelukan di foto itu. Aku juga masih ingat samar-samar kalau ayahku suka mengelus rambut ibuku saat ibu memasak di dapur. Atau curi-curi mencium kening ibuku saat kami menonton TV.

Lalu waktu berlalu. 5 tahun. 10 tahun. Dan semuanya menjadi hambar. Mereka mulai took thing for granted. Masing-masing menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing. Ayah dengan burung-burung peliharaannya. Ibu dengan kami, ketiga anaknya. Keberadaan satu sama lain jadi tidak berarti. Lalu mereka mulai meributkan hal-hal remeh. Hal-hal yang tiga hari kemudianpun kau tak ingat lagi apa. Tapi hal-hal remeh ini mendadak jadi besar dan penting untuk diperdebatkan.

Dan mereka berhenti saling mencintai.

Tidak, mereka tidak berpisah. Mungkin alasannya kami? Tapi bukankah hidup bersama dengan orang yang tidak kau cintai justru lebih menyakitkan daripada bercerai itu sendiri?

Sekarang, kau bilang padaku, apakah kekhawatiranku saat  ini berlebihan? Apa yang harus kujawab, karena david menungguku.