Movie: Blue Jay

Have you ever read a novel so realistically written you think it deserves a movie? Most of you must’ve answer a YES.

But have you ever seen a movie so beautifully heart wrenching and heart warming at the same time you think it deserves a novel?

I just did.

Go watch the movie and together share their regret with me.

Iklan

The Spontaneous One

We’ve always knew Kinanti has a soft heart, so little did we know that she is also a spontaneous girl. I mean THAT level of spontaneous.

Di sekolahnya tadi, gurunya bertanya, “siapa yang mau jadi pemimpin upacara?”

Kinan (HAHA) and the other two boys raised their hands.

Karena ada tiga anak yang minat maka dipilihlah cara voting. Kinan dapat 7 suara, Boy A 5 suara, dan Boy B 7 suara. Jadi seri, nih. Lalu datanglah dua anak perempuan yang baru selesai pelajaran agama kristen. Dan mereka memilih Kinan. Dan jadilah Kinan pemimpin upacara minggu depan.

See, i’ve always been a pembaca pancasila kinda girl, you get to perform but not much of a spotlight. But never, pemimpin upacara.

Ciee, ibu bangga nih. Boleh ya? Hehe..

Jadi tadi ibu bilang, “Kinan hebat berani tunjuk tangan!”

“Yeah, but now I think about it, aku malu juga sih”, katanya sembari membenamkan muka ke kasur..

The Absurd One

Laras, si anak bayi ter-under estimate. Karena kan kelakuan terlalu bayi, jadi take it slow untuk milestone-milestone. Ternyata di 2 taun 3 bulan milestone besar sudah terlewati. Berhasil sapih, diaper free, bebas botol.

Maaf ya Lalas, kami underestimate banget deh.

Kemarin performance pertama Laras. Ibu deg-deg an karena beda dengan Kinan yang easy baby (tapi pas gede ambegan juga, wkwkwk); Laras nih.. lebih susah lah. Naque ibu banget. Hffft. Hehe.. ga mau ditinggal pas di backstage. Kata gurunya, “ibu, mau ikut ke panggung nanti pas perform? *Guru nyengir* Kl ga mau, mending laras sama saya aja. Gapapa saya jagain”, maka keluarlah ibu diiringin isak tangis laras. Lalu ibu tegang nungguin saatnya kelas Laras perform. Dan…

Jeng jeng…

Laras keluar sambil digandeng gurunya, dan nangis kenceng, “mau sama ibuuu”

Guru-guru pun sibuk nenangin dia yang nangisnya sampai air mata ngalir-ngalir.

Sampai akhirnya lagu berkumandang.

Dan dia mulai menggerakkan kakinya.

Dan jadi semangat.

Dan bisa menari tanpa nyontek instruksi dari gurunya.

Yes, anakku random dan absurd.

❤️ You bayik.

Wisata ala-ala: Bandara Soekarno Hatta

Suatu saat duo kelinci mengantarkan ibu dinas ke T3 Bandara, dan mereka happy sekali; demikianlah background wisata bandara bulan lalu itu.

Jadi kami parkir mobil di T1C tepat di depan Stasiun SkyTrain bandara. Lalu menunggu Skytrainnya sebentar dan dimulailah perjalanan 10 menit kami ke T3.

Sampai di terminal 3 ngapain? Ya cuma lari-larian, foto-foto di taman-tamanan, terus makan dengan view menghadap pesawat terbang kalau pilih tempat duduk yang pas. Patokannya Laras senang itu kalau begitu masuk ruangan, dia langsung “wooww.. wooww, ade bole main?” (Baca: lari-larian). Maklum bocah pinggiran kota. Wkwk.

Pilihan makanan ada banyak, tapi asal ada bakmi GM, anak-anak aman bukan? #mecinnyapas. Kemarin kami nyoba makan di shaburi ekspress #gajadiWisataNgirit soalnya kalau yang di mall suka ilpil duluan. Untungnya Kinan doyan nambah terus, kalau engga dompet mamak meringis.

Tampak seperti berbackground pinggir pantai bukan?

Setelah puas makan dan lari-larian kamipun kembali ke T1 naik Skytrain. Such an improvement that our airport has this kind of facility. Good job, Angkasapura.

..

Aku menaiki motor Bapak pelan-pelan. Bapak mengangguk perlahan sebelum menjalankan motornya. Motornya, hidupnya, kesayangannya. Yang setia mengantarkanku dan menghidupiku sampai saat ini. Sejauh ini.

Aku memainkan badge kantor yang melingkar di leherku. Hari ini hari pertamaku bekerja. Dulu, begitu lulus SMA, aku sudah memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Aku ingin membantu Bapak bekerja. Membantu meringankan bebannya. Mengurangi peluh yang harus dibasuhnya. Bapak marah mendengarnya. “Kamu adalah tanggung jawabku. Kalian adalah tanggung jawabku. Tidak ada sedikitpun keharusan kau mengurusi bapak. Belajarlah dengan baik, jika kau merasa harus membayar budi padaku.”

Aku terdiam. Dan aku lakukan yang dia minta aku lakukan.

Hingga tiba saat ini. Saat aku berdiri di kakiku sendiri. Tidak merepotkan bapak lagi.

Tak terasa, satu dua bulir tangis turun di pipiku. Bapak menyadarinya lewat spion, dan dia tersenyum. “Sudah, nduk”

Motor menepi di depan terminal. Aku turun dan menggapai tangannya. “Terimakasih Pak. Doain Laras”, seruku sambil menyalaminya di antara isak tangis. Bapak mengelus kepalaku. “Sudah”, katanya lagi, “semoga berkah, nduk.”

Aku melepas tangannya dan mengangguk. “Itu, angkotmu”, lanjutnya. Aku mengangguk lagi.

Bapak menstarter motornya kemudian pergi menjauh. Ke arah pintu keluar terminal, untuk berkumpul bersama para ojek lainnya. Menanti pelanggan-pelanggan datang untuk diantarkan ke tujuan. Pekerjaannya selama belasan tahun ini. Bersama satu-satunya motornya, kesayangannya hidupnya.

Aku menatap sosoknya kemudian berbisik pelan, “semoga berkah, pak.”

Wisata Murah: Ragunan

The perk of having your house located minutes away from Ragunan zoo…

Udah tau kalau mau liat gajah masuk dari pintu mana, kalau mau singa-singaan dari pintu mana.. 😂 #unfaedah #ragunangedhabow

Minggu lalu, karena niatnya ke children zoo, maka kami masuk dari pinta utama. Niat tulus suci untuk sampai ragunan jam 7 pagi, tentu tidak terlaksana. Sampe sana jam 8.30. Gapapa.. Bagi kalian keluarga beranak dua pasti paham betapa optimisnya target tersebut.

Jadi kami kemarin ke children zoo untuk menjajal children playgroundnya yang baru yang kalau ngintip ignya @liburananak si mumpuni.

Tenyata, mantap ya, lumi loh..

Tapi ya memang diperuntukkan untuk anak besar sih (5-12 tahun) karena tangganya tinggi, dan perosotannya juga curam.

Oh iya, untuk masuk children zoo ini kita bayar lagi kalau ga salah 5000/orang.

Selesai dari situ, namapun anak-anak, udah berapa kalipun ke ragunan tetap mau liat ini dan liat itu #DisiniGemporDimulai. Akhirnya kami memutuskan untuk muter di sisi timur utara ragunan aja. Itu aja mamak udah gemeter karena di saat-saat terakhir adek mogok jalan, mungkin karena capek, dan minta digendong.

Kalau mau daerah timur utara dapatnya itu flamingo, harimau, singa, binturong, monyet-monyetan, beruang madu, burung. Ga dapet gajah atau jerapah karena beda area karna sekali lagi #ragunangedhabow

Terakhir kami naik bebek-bebekan yang sebenernya gue ga yakin bisa berfungsi karena ya… Uda karatan.

Kalau lagi akhir bulan, tapi anak ngajak jalan, best choice lah si ragunan #heyitsrhyme. Murah, meriah walau panas, dan anak serta kantong mamak bahagia.

Jangan lupa pake sepatu (karena jalan ga rata dan bakal jalan jauh), bawa minum, pakaian tipis saja, pakaikan topi buat anak-anak, dan kalau bisa pake sunblock dulu sebelumnya.

Adios.

Serupa Rindu

Pernahkah ada orang yang mati karena rindu?

Karena dia merasuki tulang-tulangku lebih dalam dari semua ngilu

Karena dia mengambil tidurku lebih panjang dari semua demam

Sungguh; rindu, adalah kata -dan rasa- yang terlarang