Laras-ku

Akhir-akhir ini, Laras selalu menambahkan ‘ku’ di akhir semua nama, yang cukup membuat kami GR.

“Ayahkuu” *hidung ayah kembang kempis*

“Tetehkuuu” *teteh tersenyum haru*

Dan buat ibu, “nenenkuuu”

….

Aku, adalah objek baginya.

Ayah tersenyum menertawakan. Hingga..

“Bebekkuuu!” Kata Laras sembari menimang boneka Bebek.

Setingkat sama bebek nih ye…

Iklan

About a Child

Pagi tadi dapat surat hasil psikotes Kinanti. Kaget, karena kayanya ga pernah ngikutin Kinan tes tes IQ gt. Ternyata itu hasil psikotes pas penerimaan SD kemarin.

Hasil tesnya, IQ Kinanti jatuh di level Sangat Superior. 

Now, lets go into details.

Point yang sangat baik dari Kinanti adalah -as expected- pengetahuan dasar dan kemampuan bahasa. Nilainya rapat kanan.

Beberapa point yang mendapat nilai cukup: ketelitian, kecepatan, fokus, koordinasi visual motorik.

I knew Kinan had problems with these, but having it written is another slap.

As much as I disagree with my mother’s parenting style, I’m actually doing it too: Helicopter Parenting.

Happy

Biar kata namaku di Handphonenya cuma ‘Fitriyanda Herawan’

Biar kata kalau ulangtahun jarang dibeliin kado (atau kalo dibeliin pun, beda selera)

Tapi digombalin gini, ya senyum-senyum juga..

“Love is not what makes you fall in the first place. It’s what keeps you going”

“Lebih Sayang Siapa?”

Dalam suatu sesi perpelukan menjelang tidur, Kinanti tiba-tiba bertanya: ibu lebih sayang adek, atau aku?

Ibu langsung nderegdeg. Kenapa Kinanti sampai nanya begitu? Apa dia merasa ada yang lebih diistimewakan? Padahal selama ini kami (merasa) sudah seadil mungkin..

“Kok Kinan nanya gitu? Emang menurut Kinan gimana?”

“Ga tau,” jawabnya sambil menggeleng.

Ibu terdiam.

“Enngg, kalau Kinan, lebih sayang ibu atau ayah?”

“Ga tau,” jawabnya lagi..

” Susah kan jawabnya? Ibu juga ga bisa jawab kalau ditanya begitu.”

“Tapiii,” lanjut ibu, “kalau ibu dan ayah terlihat lebih memperhatikan adek, itu karena adek masih kecil. Belum bisa apa-apa. Ibu takut ade jatuh. Atau adek makan mainan. Karena ade belum ngerti.”

Kinan tertawa..

“Kalau Kinan, sudah pintar. Sudah bisa jaga diri. Ibu dan ayah percaya sama Kinan. 

“Jadi kalau sayangnya sama besar, bentuknya saja beda. Cara menunjukkannya beda.”

Kinan mengangguk. 

And I could feel her smile.

“Oke Kinan?”

“Oke ibu…”

Aku ga tau, jawaban itu benar atau salah, but that was the most honest answer I could think of in a split second.

And I hope her mind (and heart) understood.

HoNY

I’ve been following Humans of New York for a while now. And among all those life tragedies and irony, I found this really cute story.


I guess I will always have this teen-lit side of my heart save and sound ❤️